Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia akan dimulai setelah 2025.

Pembangunan PLTN ini dalam rangka memenuhi permintaan energi nasional yang diperkirakan akan terus meningkat. Juga untuk menekan emisi gas rumah kaca.

"Ini program kami, pembangunan program EBT setelah tahun 2025, pemerintah Indonesia akan terapkan beberapa program di antaranya pembangunan pembangkit tenaga nuklir untuk memberikan suplai energi nasional," papar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana.
Rida dalam diskusi daring, Kamis (29/04/2021).

Lebih lanjut Rida mengatakan, rencana ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pembangunan ini menurutnya akan dilakukan setelah melakukan komunikasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Pembangunan ini akan ditentukan pemerintah setelah komunikasi dengan DPR," ujarnya.

Tidak hanya PLTN, pemerintah juga memasukkan pembangkit listrik tenaga hidrogen ke dalam rencananya setelah tahun 2025. Saat ini menurutnya pembangkit hidrogen masih dalam tahap penelitian.

"Pembangkit listrik hidrogen saat ini masih tahap penelitian dan belum bisa diperdagangkan dalam skala komersial," ungkapnya dikutip CNBC Indonesia.

Sampai saat ini Indonesia masih belum memanfaatkan nuklir sebagai pembangkit listrik. Padahal, Indonesia sudah punya nuklir sejak hampir 50 tahun lalu.

Djarot Sulistio Wisnubroto, Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyebut uji kelayakan (feasibility study/ FS) sudah dilakukan di beberapa daerah seperti Jepara, Bangka dan Kalimantan Barat (Kalbar).

"Saya kira nuklir itu sejarahnya di Indonesia sudah hampir 50 tahun," ungkapnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Senin (22/03/2021).

Menurutnya, di dunia saat ini ada sebanyak 440 reaktor nuklir yang beroperasi di 32 negara dan porsinya mencapai 10,1 persen energi di dunia. Di Indonesia, menurutnya ada beberapa lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk membangun PLTN, terutama di daerah yang tidak rawan gempa.

"Sering mengatakan ini daerah-daerah gempa, cari daerah-daerah di Kalimantan, di Bangka, dan lain-lain, itu siap. Kita siap dari berbagai faktor," jelasnya.