Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menilai, pertumbuhan ekonomi yang minus tersebut membuat perputaran ekonomi berkurang cukup signifikan. "Kalau kita estimasi dari hilangnya kesempatan kita untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebelum Covid-19 yang ditargetkan 5,3 persen kemudian berakhir minus 2 persen, nilai ekonomi yang hilang akibat pandemi sebesar Rp1.356 triliun,” kata Sri Mulyani dalam video virtual, Kamis (29/4/2021)

Dikutip dari INews, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menyebut, pemerintah langsung mengeluarkan kebijakan countercyclical untuk mengurangi dampak negatif dari pandemi Covid-19. Jika tidak, maka kemungkinan besar perekonomian minus lebih dalam.  "Tdak berarti kita terlena atau tidak menganggap persoalan perlu diperhatikan serius, namun seluruh dunia melakukan countercyclical," katanya.

Kebijakan tersebut, kata Sri Mulyani, kembali dilanjutkan tahun ini. Desain APBN tetap ekspansif dengan pagu belanja negara naik 12,3 persen atau Rp284,2 triliun dibandingkan tahun lalu. Adapun pendapatan negara diproyeksikan masih turun Rp312,8 triliun. Akibatnya, utang meningkat. “Ini masih perjalanan yang cukup panjang. Pada 2021 kita juga masih melihat kebutuhan yang meningkat dan pendapatan yang belum pulih karena kita memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ucapnya.