Ini karena yield SBN Indonesia terutama yang jangka waktu 10 tahun, cukup menarik para pemburu cuan. "Terkait kepemilikan asing, tentunya kita akan tetap melihat bahwa ini adalah sebuah indikator level of attractiveness dari SBN kita dan kita lihat secara keseluruhan sebenarnya kita masih memiliki potensi cukup besar untuk inflow ke depan," ujarnya dalam Power Lunch, CNBC Indonesia, Jumat, (23/04/2021).  

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat investor asing menurun di SBN domestik karena melihat dinamika yang ada di pasar. Di mana ada proyeksi yang mengatakan bahwa US Treasury AS akan naik menjadi 1,9% di tahun ini.

Namun, ia menilai bahwa hal tersebut masih belum pasti. banyak juga investor yang menunggu hasil rapat FOMC yang akan dilakukan pada akhir bulan ini. Ini dinilai menandakan bahwa investor telah mencerna kondisi market lebih baik.  "Apakah yield bergerak 1,9% di akhir tahun masih menjadi teka-teki pasar. Menunggu statement The Fed di 28 April," kata dia.

Ia menjelaskan, saat ini sekitar Rp 4000 triliun SBN Pemerintah, sekitar 22,5% dimiliki oleh investor asing dan 25% dimiliki perbankan dan ritel, reksadana sekitar 30% serta sisanya SBN pemerintah dimiliki oleh BI dan Lembaga lain.

Bank Indonesia menilai bahwa tidak perlu khawatir meski kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara (SBN) berkurang. Sebab, BI akan selalu ada di pasar untuk mendukung pembelian SBN baik melalui lelang maupun pasar sekunder.  "Nah ini tentunya tidak ada rule yang harus jadi patokan market, namun persentase tersebut lebih menunjukan indikasi level of attractiveness satu, dan tentunya ada aspek hal yang harus kita perhatikan yaitu pendalaman pasar sun di pasar domestik," jelasnya.

"Serta ini juga menunjukkan bahwa level ketergantungan kita terhadap pendanaan asing juga berkurang. Artinya pemerintah yakini investor domestik memberikan kontribusi signifikan di pasar SBN kita," imbuhnya.