Presiden Chad, Idriss Déby (68) tewas di medan perang, saat berperang melawan pemberontak pada Selasa (20/4/2021). Déby meninggal sehari setelah hasil Pilpres sementara menyatakan Deby unggul dari pesaingnya.

Kemenangan ini melanggengkan kekuasaan Déby menjadi 30 tahun. Deby seharusnya memberikan pidato kemenangan di masa jabatan keenamnya. Tapi, Déby malah bergabung dengan pasukan Chad untuk memerangi pemberontak.

Déby yang punya latar belakang militer, sering bergabung dengan tentara di medan perang. Pada Senin waktu setempat, Déby mengunjungi pasukan militernya di garis depan, setelah pemberontak yang berbasis di perbatasan utara di Libya maju ratusan km ke selatan menuju ibukota N'Djamena.

" Idriss Déby Itno, seperti yang dia lakukan setiap kali republik terancam, mengambil kendali operasi selama pertempuran heroik yang dipimpinnya melawan teroris dari Libya. Dia terluka saat pertempuran dan meninggal begitu dibawa ke N'Djamena," kata juru bicara Azem Bermendao Agouna dalam siaran di televisi pemerintah Chad, seperti dilansir Reuters.



Setelah kematian Déby, putranya, Mahamat Kaka mengambilalih kepemimpinan dan menggantikan posisi ayahnya sementara sebagai kepala dewan militer. "Putra Déby, Mahamat Kaka, diangkat sebagai presiden sementara oleh dewan transisi perwira militer," kata Bermendao Agouna.

Déby berkuasa dalam pemberontakan pada tahun 1990 dan merupakan salah satu pemimpin Afrika yang berkuasa paling lama.

Karirnya berawal ketika dirinya bergabung dengan tentara pada tahun 1970-an. Ketika itu Chad sedang mengalami perang saudara yang telah berlangsung lama.

Déby sempat menerima pelatihan militer di Prancis dan kembali ke Chad pada tahun 1978. Ia memberikan dukungannya kepada Presiden Hissène Habré dan akhirnya menjadi panglima angkatan bersenjata.

Dia merebut kekuasaan pada tahun 1990, dengan cara memimpin pasukan pemberontak.