Ketua PW PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) Papua, Fritz Haryadi memprotes video malam pertama Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah yang diunggah di akun Insatragamnya.

Fritz beranggapan bahwa konten yang dibagikan Atta itu hanya menambah dosis baru asupan kebodohan yang sudah lama dicekokkan. 

“Dengan subscribers rata-rata remaja usia sekolah, Atta Halilintar menayangkan video malam pertama. Lima juta penonton dalam tempo 24 jam,” ungkap Fritz. 

“Tentu tidak ada konten porno, platform melarangnya; tapi ini menambah dosis baru dalam asupan kebodohan yang sudah terlalu lama dicekokkan kepada generasi muda kita,” lanjutnya.

Fritz pun menceritakan mengenai istrinya yang juga seorang pendidik di sebuah SMP. Menurutnya, sudah 2 tahun istrinya mengajak ngobrol dengan anak-anak didiknya yang menjadi subscriber Atta. 

Rata-rata murid-murid istrinya itu mengaku hanya ikut-ikutan tren. Yang disukai mereka dari channel Atta diantaranya adalah konten prank, pamer mobil mahal, pamer keseharian yang bergelimang kemewahan, dan ucapan “asiyaaap” yang menjadi trademark Atta. 

“Pendeknya, Atta adalah perpanjangan dari sinetron. Ia menghadirkan bukti bahwa kebodohan fiktif bisa menjadi nyata. Dan untuk jasa itu anak-anak kita menimbunnya dengan uang,” kata Fritz.

Menurut Fritz, sesi obrolan antara istrinya dengan anak-anak didiknya itu pada akhirnya dilanjutkan dengan langkah konkret, yang Fritz dukung secara lahir batin.

“Sesi obrolan itu diakhiri dengan langkah konkret, yang saya dukung lahir-batin,” tulisnya.

“Ia minta anak-anak (didik)nya unsubscribe channel Atta. Kalau bisa jangan tonton lagi. Kalau masih terasa berat, tonton saja, tapi jangan subscribe. Habis nonton, jangan lupa dislike. Jempol turun,” sambungnya.