Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan, dominasi China terhadap ekonomi Indonesia cukup tinggi. Disarakan ada diversifikasi negara tujuan ekspor.

Ekonom senior Indef, Dradjad Hari Wibowo mengatakan, porsi ekspor Indonesia paling besar ke China yakni 19,31 persen dengan nilai 29 miliar dolar Amerika Serikat (AS) di 2020. Kendati demikian, Indonesia mengalami defisit perdagangan cukup besar dengan China sekira 10 miliar dolar AS karena impor dari Negeri Tirai Bambu itu, menembus angka 39 miliar dolar AS atau porsinya hampir 31 persen. "Dominasi peranan China terhadap Indonesia cukup tinggi, sehingga kita harus melakukan diversifikasi," ujar Dradjad dalam sebuah webinar, dikutip dari Tribun Network, Selasa (6/4/2021).

Di sisi lain, dia mengapresiasi langkah tiga pejabat negara yakni Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang sudah berkunjung ke China terkait komitmen perdagangan. "Saya baru cek bahwa Lutfi, Retno, dan Erick Thohir pulang dari China membawa komitmen perdagangan bersama mereka. Kita menyambut baik apa yang Mas Lutfi dan kawan-kawan lakukan, saya tahu mereka mewujudkan apa yang menjadi tugasnya," katanya.   

Kendati demikian, Dradjad menambahkan, ada tantangan dalam melakukan diversifikasi ekspor selain ke China yakni isu-isu non ekonomi. "Tapi, ada 1 hal yang tampaknya lemah kita tangani di dalam diplomasi atau strategi perdagangan kita ke pasar global yakni isu terkait keberlanjutan dan hak asasi manusia," katanya.

Duta Besar Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun mengungkapkan, Asosiasi Furniture dari China akan mengunjungi Indonesia untuk investasi pada pertengahan April 2021.

Djauhari mengatakan, selain itu, hasil kunjungan tiga menteri sebelumnya cukup bagus dari China untuk komitmen ekspor dengan adanya penandatanganan untuk pembelian produk-produk pertanian dan furniture dari Indonesia.

"Nilainya sejumlah 1,38 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Lalu, komitmen investasi juga untuk sektor furniture dari Asosiasi Furniture di sini, tanggal 16 April mereka ke Indonesia," ujarnya.Asosiasi Furniture itu, lanjut dia, akan berinvestasi di industrial park sekira 1,3 miliar dolar AS serta ada juga komitmen investasi untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV). "Investasi EV dengan CATL dan lain-lain konsorsium sekira 5 miliar dolar AS dengan Pak Erick menyaksikan.    

"Jadi lumayan hasil positif dari sini dan khusus mengenai perdagangan Indonesia dengan China, waktu saya pertama masuk ke sini, kita peringkat 5 di ASEAN. Jadi, saya juga tidak terlalu senang karena sebagai strategic comprehensive partnership mestinya kita di urutan pertama di perdagangan," katanya.

Sementara, kalau di investasi, Indonesia di urutan pertama serta pariwisata di urutan keempat dan akan terus didorong agar perdagangan dengan China, meningkat signifikan dari urutan keempat sekarang. Menurut data, volume perdagangan antara kedua negara sebesar 78,5 miliar dolar AS. Dan, akan ditingkatkan menjadi 100 miliar dolar AS di 2024. Dari volume perdagangan tersebut, ekspor Indonesia itu 37,4 miliar dolar AS atau naik 10,10 persen dibanding 2019 dengan volume impor masih sekira 41 miliar dolar AS.

"Jadi, defisit perdagangan kita sekarang itu sekira 3,6 miliar dolar AS atau menurun 60 persen dari angka 7 miliar dolar AS defisit perdagangan tahun sebelumnya (2019). Ini bisa ditutup dengan investasi yang masuk ke Indonesia, kita coba menyeimbangkan dalam konteks (defisit perdagangan) ini," pungkas Djauhari.