Entah ada kaitannya ada tidak, sebelum harga sahamnya ambruk, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan berkomentar terkait kinerja yang amburadul, di tengah gencarnya proyek infrastruktur.

Dikutip dari CNBCIndonesia, Senin (5/4/2021), pukul 09.17 WIB, pergerakan saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk atau WSKT, anjlok -3,54% ke posisi Rp1.090, nilai transaksi Rp30 miliar. Sedangkan PT Wijaya Karya Beton (Persero) Tbk atau WTON, sahamnya anjlok -3,12% ke posisi Rp310, transaksi Rp 589 juta.

Untuk saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, saham anjlok -1,95% ke level  Rp1.505, transaksi Rp10 miliar. Sedangkan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk atau PTPP, saham anjlok -1,82% ke posisi Rp1.350, nilai transaksinya Rp5 miliar.
     
Sedangkan Adhi Karya (ADHI), saham anjlok -1,34% ke Rp1.105, nilai transaksi Rp3 miliar. Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE), saham -0,97% ke Rp 204, transaksi Rp907 juta. Jasa Marga (JSMR), saham -0,73% ke Rp 4.100, transaksi Rp 2 M
     
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham WSKT menjadi yang paling ambles di antara yang lainnya, yakni sebesar Rp 3,54% ke Rp 1.090/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 30 miliar.    

Meskipun melemah, asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp3,67 miliar. Praktis, dengan pelemahan ini, WSKT sudah terbenam di zona merah selama 12 hari perdagangan beruntun. Dengan demikian, selama sepekan saham ini sudah anjlok 18,89%. Adapun dalam sebulan WSKT sudah ambles 23,43%.

Di tempat kedua, ada saham WTON yang anjlok 3,13% ke Rp 310/saham dengan nilai transaksi Rp 589 juta. Asing tercatat melakukan jual bersih di saham anak usaha WIKA di bidang produksi beton pracetak ini sebesar Rp 18,51 juta.

Setali tiga uang dengan anak usahanya WTON, WIKA, juga merosot 1,95% ke Rp1.505/saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10 miliar. Asing tercatat ramai-ramai keluar dari saham emiten yang melantai di bursa pada 2007 ini dengan catatan jual bersih Rp1,61 miliar. Dengan pelemahan ini, saham WIKA sudah terkoreksi 6,50% dalam seminggu, sementara dalam sebulan sudah anjlok 13,75%.

Dahlan Iskan, dalam artikelnya bertajuk "Haus Kerongkongan," meyakini ramalan para ekonom mengenai ketahanan BUMN Infrastruktur tinggal menunggu waktu. Tentu saja konotasinya negatif, tinggal menunggu kebangkrutan.

Posisi BUMN Karya digambarkan akan sulit atau sulit sekali. Sektor konstruksi memang menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19.

Proyek-proyek konstruksi terpaksa mangkrak ketika Indonesia pertama kali kedatangan tamu tak diundang dari Wuhan, China. Mangkraknya proyek ini tentu saja menyebabkan sektor konstruksi yang padat modal merugi parah akibat arus kas yang macet. Sementara beban keuangan yang jumbo akibat hutang usaha yang besar harus tetap dibayar.

Hal ini tentu saja tercermin dari laporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya di tahun 2020 yang kinerjanya sangat tidak memuaskan. Beberapa BUMN Karya laba bersihnya terpaksa terpangkas hingga 90%.

Dari seluruh BUMN Karya, terdapat satu perusahaan yang kerugiannya sangat dalam, apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang pada tahun 2020 terpaksa membukukan rugi bersih Rp7,38 triliun.

Rugi bersih yang amat masif ini menyapu bersih seluruh laba ditahan Waskita yang sudah dikumpulkan sejak perseroan pertama kali berdiri pada 1973 sehingga ekuitas WSKT saat ini hanya tersisa Rp7,53 triliun, lenyap lebih dari separuh tepatnya 57,88% dari posisi tahun lalu Rp17,88 triliun.

Selain Dahlan, investor kawakan Lo Kheng Hong (LKH) juga pernah menyebutkan bahwa dirinya takut untuk berinvestasi di saham BUMN Karya karena hutangnya yang menggunung ini.

Pada Januari lalu, LKH menyebut alasannya mengapa dirinya enggan berinvestasi di saham sektor konstruksi. Dalam diskusinya bersama KBRI Singapura Lo yang dijuluki Warren Buffet Indonesia ini mengungkapkan emiten di sektor kosntruksi cenderung memiliki hutang yang besar.