Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengritik kasus debitur bank yang ingin top up tetapi tidak dilayani bank. Debitur tersebut masih memiliki agunan tapi bank tidak memberikan. "Hal itu terjadi. Padahal sudah repayment sebagian. Tapi saya tidak bisa pukul rata ini terjadi di seluruh bank," ujar Emil di hadapan pejabat Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK dan LPS dalam Temu Stakeholder untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional yang disiarkan langsung di akun YouTube Bank Indonesia.  

Emil juga menyampaikan apresiasi terhadap acara tersebut. Menurutnya, acara yang diinisiasi Bank Indonesia tersebut dapat dijadikan wadah mempercepat program PEN yang digulirkan pemerintah pusat.

Peran semua pihak, mulai dari pemerintah, stakeholders dan pengusaha diharapkan dapat berjalan bersama. "Momen ini, pengusaha bisa bertemu secara langsung dengan Wamenkeu, Deputi Gubernur BI, Perwakilan DPR RI. Ini kesempatan pengusaha untuk bisa bertanya langsung apa sih sebenarnya arah dari kebijakan pemerintah pusat," terang mantan Bupati Trenggalek ini.

Ia menambahkan, semua pihak harus berjalan bersama-sama untuk percepatan PEN. "Layaknya orchestra yang harus bersamaan untuk mengeluarkan nada, momen ini sama seperti itu," imbuhnya.

Menurut Emil, sektor yang menjadi prioritas dalam percepatan PEN kali ini adalah sektor manufaktur. Karena sektor tersebut menjadi penyumbang ekonomi terbesar di Jatim sebesar 30 %. Diperkirakan, perekonomian Jatim pada 2021 tumbuh di kisaran 4,75%-5,3% year on year (yoy).

"Karena manufaktur yang baik akan mendukung sektor lain. Kalau ada barangnya maka akan ada pasarnya, ada pedagangnya, akan memberi makan untuk logistik. Nah inilah yang kita harapkan, kalau kita bisa memproduksi barang yang laku di pasaran, akan menimbulkan multiplayer effect," jelasnya.