Ekonom senior INDEF, Aviliani membeberkan riset yang menyatakan bahwa kalangan milenial lebih tertarik untuk memarkir duitnya di produk keuangan non perbankan. Pilihannya bisa reksadana atau obligasi.

Aviliani bilang, tren ini harus mulai diwaspadai oleh perbankan. Bahwa, era digital saat ini, layanan perbankan bukan lagi yang utama bagi generasi milenial. “Kita punya riset, di kaum milenial sudah terjadi perubahan perilaku. Dulu bank jadi produk utama tapi sekarang tidak. Produk utama enggak hanya bank tapi nonbank. Kaum milenial sekarang banyak bergeser ke reksa dana, saham, dan obligasi,” ujar Aviliani dalam dalam Webinar Akurat.co Peran Digital Banking dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi, Kamis (1/4/2021).

Menurut Aviliani, transaksi di perbankan akan semakin menurun. Beberapa tahun lalu, transaksi perbankan mendominasi di angka 80 persen. Kini turun di sekitar 72 persen. Dia memprediksi, persentase tersebut semakin turun menjadi 55 persen dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, masyarakat mulai meninggalkan layanan perbankan. “Sebanyak 45 persen akan lari ke nonbank seperti asuransi, dana pensiun, reksadana dan obligasi. Nah ini artinya bank harus siap-siap,” ujarnya.

Menurut Aviliani, masyarakat memang tetap akan menyimpan dana mereka di bank. Namun jika masyarakat punya dana berlebih, uang tersebut akan disimpan di bank namun kemudian digunakan untuk transaksi untuk produk non bank lainnya. “Memang uang akan di bank semua. Tapi uang bukan disimpan dalam bentuk deposito, tapi naruh di bank misalnya untuk beli saham atau obligasi,” ujarnya.

Ini artinya tantangan bagi perbankan ke depan adalah sumber dana yang semakin sulit. “PR bank ke depan, PR-nya adalah makin banyak sumber dana yang tersebar di luar perbankan,” ujarnya.