Surat wasiat yang ditinggalkan terduga teroris, baik pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan maupun penyerang Mabes Polri Jakarta Selatan, memiliki kemiripan.

Menanggapi kemiripan dua surat wasiat tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli Amar mengatakan, kedua pelaku merupakan hasil proses radikalisasi oleh radikal intoleran terorisme melalui media sosial.

Hal itu dikatakan Boy saat menghadiri rapat kunjungan kerja spesifik bersama Komisi III DPR di Polda Sulawesi Selatan, dalam rangka menindaklanjuti aksi teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, akhir pekan lalu.



Boy juga mensinyalir keduanya saling terkait. "Berdasarkan fakta yang didapat, surat wasiat pelaku penyerangan Mabes Polri mencontoh surat wasiat yang ditulis oleh pelaku bom suami istri di Makassar, seperti meminta maaf ke keluarga dan jangan pakai bank. Ini adalah hasil proses radikalisasi oleh radikal intoleran terorisme melalui media sosial," kata Boy.

Boy menegaskan akan menindaklanjuti dan berupaya melakukan upaya pencegah lebih dalam lagi kepada para generasi milenial. Pasalnya, kemajuan dunia digital saat ini membuat mudah dan maraknya konten-konten propaganda serta narasi ujaran kebencian, yang tidak dapat terhindarkan.

"Untuk itu, peran keluarga juga diharapkan dapat terlibat untuk mengawasi anak-anak mereka dalam menggunakan sosial media secara baik dan benar. Langkah preventif dan represif baik soft maupun hard approach juga akan diterapkan oleh pemerintah dan aparat keamanan untuk upaya pencegahan yang lebih menyeluruh dan mendalam," tegas Boy Rafli.

Diletahui, pihak kepolisian menemukan barang bukti surat wasiat dari peristiwa bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri.

Surat wasiat terduga pelaku Lukman dan Zakiah Aini ditulis menggunakan tangan di sebuah kertas.

Pola kedua surat wasiat tersebut punya kemiripan. Salah satunya adalah dokumen itu ditujukan kepada orang tua masing-masing pelaku.



Baik Lukman maupun ZA membuka surat wasiat itu dengan meminta maaf kepada orang tua. Bahkan, keduanya mengawali permintaan maaf itu dengan kata wahai.

"Wahai ummy ku minta maafkan kalo ada salahku baik perilaku maupun lisanku," tulis Lukman.

"Wahai mamaku maafin zakiah yang belum pernah membalas pemberian keluarga," tulis Zakiah Aini.

Kedua pelaku berpesan kepada keluarga agar selalu beribadah kepada Allah. Keduanya sama-sama menuliskan 'jangan tinggalkan sholat'. Pesan tersebut diakhiri dengan tulisan, 'semoga Allah kumpulkan di surga.

"Jangan ki lupa senantiasa beribadah kepada Allah dan jangan ki tinggalkan sholat , semoga Allah kumpulkan ki di surganya," tulis Lukman.

"Mama, ayah jangan lupa senantiasa beribadah kepada Allah SWT, dan jangan tinggalkan sholat. Semoga Allah kumpulkan kembali keluarga di surga," tulis Zakiah Aini.

Untuk memulai narasi ini, kedua pelaku sama-sama menuliskan kalimat yang berbunyi, tapi Allah lebih menyanyangi hambanya. Setelah itu, keduanya menambahkan narasi terkait jalan nabi/rasul.

Lalu, kata-kata itu disambung dengan janji berkumpul di akhirat.

"Makanya Zakiah tempuh jalan ini sebagaimaan jalan nabi/rasul Allah untuk selamatkan Zakia dan dengan izin Allah bisa memberi syafaat untuk mama dan keluarga di akhirat," tulis Zakiah Aini.

"Makanya saya tempuh jalanku sebagaimana … nabi/rasul allah untuk selamatkanki dan bisaki kembali berkumpul disurga," terang Lukman.

Kedua pelaku juga meminta keluarga agar berhenti berhubungan dengan institusi perbankan. Sebab, mereka menulis hal itu tidak diberkahi Allah.

Mereka sama-sama menuliskan pesan ini setelah menyebutkan narasi jalan rasul. Bahkan, penggunaan riba dan penyebutan tidak diberkahi Allah terlihat mirip polanya.

"Satu ji pesanku buat kita ummy, berenti meki ambil uang bank karna uang bank itu riba dan tidak di berkahi oleh Allah," tulis Lukman.

"Pesan Zakiah untuk mama dan keluarga, Berhenti berhubungan dengan Bank (kartu kredit) karena itu riba dan tidak diberkahi Allah," Zakiah Aini.