Berdasarkan laporan proyek smelter Freeprot, masih jauh dari target. Bahkan dari rencana progres yang dipatok hanya 10,5%, sementara realisasi pengerjaan 2020 cuman 5,86%. Jadi memang tidak pernah punya niat baik.

Kondisi tersebut menjadi pertanyaan besar anggota Komisi VII DPR asal PDI Perjuangan, Adian Napitupulu. Dirinya mempertanyakan kepada pemerintah terkait alasan kenapa smelter Freeport tak kunjung terbangun fisiknya. Padahal, proyek fasilitas pemurnian dan pengolahan itu secara aturan perundang-undangan, wajib dibangun dalam upaya mewujudkan hilirisasi tambang.

"Saya enam tahun di Komisi VII DPR bicaranya smelter, smelter, smelter tapi nggak pernah dikerjakan. Mereka ini enggan ngeluari duit gitu lho. Ya kita fair saja kalau tidak nguntungin kita bicarakan kembali kalau nguntungin kita paksa," ujar dia saat raker bersama Kementerian ESDM, di Komisi VII DPR, Rabu (31/3/2021).

Menurut dia, pada dasarnya, kalau memang proyek tersebut menguntungkan pihaknya yakin Freeport akan segera membangun smelter. Pasalnya pengusaha itu punya watak kapitalis, di mana menguntungkan dimanapun akan dikejar. "Kalau menguntungkan nggak usah kita paksa-paksalah karena wataknya pasti tamak. Nguntungin, bangun, ambil. Kenapa harus dipaksa-paksa. Jangan-jangan ini nggak nguntungin," kata dia.

Dia menegaskan, kalau memang smelter itu menguntungkan buat Freeport, menguntungkan buat MIND ID maka DPR bersama pemerintah tidak perlu bertahun-tahun membahas soal smelter yang tidak kunjung terbangun.

"Nah, jangan-jangan betul tidak menguntungkan, kita justru nantinya akan membunuh MIND ID gitu loh. Kalau benar investasi USD300 miliar per tahun jangan-jangan tahun ke 15 sudah good bye Freeport, MIND ID juga good bye karena tersedot kerugian terus menerus," tandas dia.

Sebab itu, program hilirisasi perlu ditinjau ulang agar ke depan dapat berjalan lebih baik tidak cuma terus menerus dibahas tapi tidak ada wujudnya sampai sekarang.

Sebagaimana diketahui, PTFI saat ini sedang membahas kerjasama baru dengan Tsingshan Steel China untuk membangun smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera. Adapun wilayah tersebut merupakan kawasan smelter nikel yang terintegrasi.