Sepanjang 2020, emiten konstruksi pelat merah bersandi WSKT ini, keuangannya babak belur. Kerugian yang harus ditanggung mencapai Rp7,3 triliun. Dana sebesar bisa dimanfaatkan untuk membangun jalan tol hampir 100 kilometer.

Berdasarkan keterangan tertulis perusahaan di Jakarta, Rabu (31/3/2021), kerugian super jumbo yang mendera WSKT dipicu membengkaknya beban pinjaman dari investasi jalan tol. Ditambah penurunan produktivitas proyek, serta beban tambahan yang cukup besar akibat pandemi COVID-19.

Asal tahu saja, sepanjang 2020, Waskita harus menanggung beban pinjaman Rp4,74 triliun. Atau naik 31% dibandingkan 2019. Kenaikan tersebut disebabkan oleh bertambahnya jumlah ruas tol milik Waskita yang telah beroperasi.

Selain itu, proses divestasi yang telah direncanakan oleh Waskita pun tertunda pelaksanaannya akibat pandemi Covid-19. Dari 5 ruas yang ditargetkan untuk dapat dilepas, hanya divestasi 1 ruas yang dapat terealisasi.  

Presiden Direktur Waskita, Destiawan Soewardjono mengatakan, produktivitas Waskita pada tahun 2020, yang diukur dengan rasio order book burn rate to sales, hanya mencapai 24,6%. Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2019 dimana rasio burn rate dapat mencapai 35%.
"Penurunan produktivitas secara langsung berdampak pada seluruh kinerja keuangan perusahaan," ujarnya.

Waskita juga mencatatkan beban operasi sebesar Rp19,87 triliun atau 123% dari capaian pendapatan usaha pada periode 2020. Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan beban bahan baku dan beban overhead akibat pandemi, serta adanya beberapa klasifikasi ulang dalam pos laba rugi.

Selama pandemi Covid-19, Waskita pun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk implementasi protokol kesehatan di lingkungan kerja perusahaan. Meski secara konsolidasi mencatatkan rugi bersih, namun segmen bisnis jasa konstruksi Waskita masih profitable biarpun diterpa Pandemi.

Dia menambahkan, bisnis jasa konstruksi tercatat menyumbang 90% dari total pendapatan Waskita di 2020. Segmen tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp 14,5 Triliun dengan keuntungan bruto sebesar Rp1,17 Triliun atau rata-rata margin laba bruto sebesar 8%.

"Pada lini bisnis konstruksi yang menjadi core competency, Waskita masih sangat kuat," terang Destiawan. "Ditambah dengan transformasi yang sedang kami lakukan, ke depan kami yakin kami akan jadi lebih efisien sehingga keunggulan kompetitif kami juga meningkat," ujar Destiawan.

Ke depan, Waskita akan terus memperkuat pangsa pasarnya di proyek-proyek infrastruktur. Bukan hanya jasa konstruksi, lini bisnis manufaktur material konstruksi yang dimiliki oleh Waskita juga dapat mendukung pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur ke depannya. "Potensi pengembangan infrastruktur di Indonesia masih sangat besar, bukan hanya proyek jalan tol tapi juga proyek-proyek lain seperti pembangunan infrastruktur sumber daya air dan pembangkit listrik," pungkasnya.