Inisiator Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demoktrat yang dihelat di The Hill, Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) memberi julukan 'Jenderal Santri' kepada Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko setelah sempat menjadi imam shalat.

Dengan mengimami shalat, Moeldoko lantas dianggap memiliki kemampuan dan pemahaman lebih tentang agama.

Menyikapi julukan baru itu, politisi Partai Demokrat Syahrial Nasution justru mempertanyakan, kapan Moeldoko menimba ilmu di sebuah pesantren, hingga dijuluki sebagai santri.

"Kapan Pak Moeldoko pernah nyantri? Di mana pesantrennya? Wushulnya kepada guru siapa?" kata Syahrial, Senin (29/03/2021).

Ditambahkannya, para anggata KLB Sibolangit berlebihan memberikan julukan kepada Moeldoko dengan sebutan santri jika hanya dilihat mampu menjadi imam shalat dengan segelintir makmun.

"Apakah karena bisa menjadi imam shalat berjamaah lantas bisa disebut jenderal santri? Saya kira, kalau hanya karena mampu jadi imam shalat berjamaah langsung diklaim sebagai jenderal santri, agak berlebihan. Nanti ada kopral santri, sersan santri dan kapten santri. Masak santri pakai pangkat?" ucap Syahrial.

Menurutnya, jika hanya dinilai mampu menjadi imam shalat, maka para anggota KLB Sibolangit seharusnya paham bahwa seluruh laki-laki muslim harus menjadi imam shalat untuk keluarganya, bukan semata-mata bisa menjadi jenderal santri.

"Difoto jadi imam shalat, lantas semua yang punya pangkat mengklaim dirinya santri. Padahal, setiap laki-laki muslim, apalagi kepala keluarga, wajib hukumnya untuk bisa menjadi imam shalat. Minimal untuk keluarganya sendiri," ucap Syahrial. 

Senada, Politisi Partai Demokrat, Taufiqurrahman menyampaikan bahwa julukan tersebut tidak pas disematkan kepada Moeldoko. Menurutnya, yang cocok disebut sebagai jenderal santri adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Inti dari statement Darmizal dengan julukan 'jendral santri' itu adalah upaya melekatkan watak politik Partai Demokrat dengan Moeldoko, yang tegas disebut sebagai nasionalis religius. Sementara, ide, istilah dan turunan tentang nasionalis religius bagi Partau Demokrat tersebut adalah buah pikir SBY," ucap Taufiq, Senin (29/03/2021).

"Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengerti soal-soal ideologis dan turunan ide tersebut bisa disebut nasionalis religius atau jenderal santri," imbuhnya.

Istilah santri datang dari budaya sejak zaman Hinduism di Indonesia. Sehingga, kata Taufiq, tidak ada korelasinya antara memimpin shalat dan santri.

"Memimpin shalat dan santri juga sesuatu yang tidak memiliki hubungan langsung. Santri itu suatu istilah budaya sejak zaman Hindu. Dan, bukan istilah yang tipikal Islam. Jangan-jangan Darmizal tidak mengerti asal muasal istilah santri," ujarnya.

Taufik juga justru mempertanyakan julukan untuk Moeldoko tersebut lantaran tidak sesuai dengan sikapnya yang telah merebut Partai Demokrat.

"Masak santri kemudian jadi maling atau begal partai?" ujar Taufik, mantan anggota DPR DKI Jakarta.

"Lebih penting jadi orang baik daripada menjadi orang penting. Orang penting kalau katanya mencla-mencle, bohong tidak ada gunanya. Bilang ngopi-ngopi, foto-foto dan seterusnya, tahu-hau jadi begal partai. Orang baik itu ksatria. Orang penting tapi tidak ksatria sama saja bohong. Di depan dia cium tangan, di belakang dia berkhianat," pungkasnya menambahkan. 


Dikutip dari RMOL