Serangan bersenjata dilaporkan terjadi terhadap konvoi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kota Kanyamahoro, Kongo timur. Serangan itu turut menewaskan Duta Besar Italia untuk Republik Demokratik Kongo.

Kementerian Luar Negeri Italia melaporkan ada dua orang lainnya tewas dalam serangan yang terjadi pada Senin (22/02) pukul 10:15 waktu setempat.

Para korban tewas adalah, Luca Attanasia, merupakan Duta Besar Italia untuk negara itu sejak 2017. Attanasia, seorang diplomat karir berusia 43 tahun, meninggalkan seorang istri dan tiga anak kecil.

Dua orang tewas lainnya adalah pengawal Attanasia, Vittorio Lacovacci, serta seorang sopir pribadi.

Sedangkan anggota lain dari konvoi itu terluka dan dibawa ke rumah sakit, menurut WFP seperti  dikutip Arabnews.com, Selasa (23/2/2021).

Penyergapan itu terjadi ketika konvoi sedang dalam perjalanan dari Goma, kota di wilayah timur Kongo, untuk mengunjungi proyek sekolah Program Pangan Dunia (WFP) di Rutshuru, menurut laporan PBB.

WFP mengatakan serangan itu terjadi di jalan yang sebelumnya telah dibersihkan untuk perjalanan tanpa pengawalan keamanan. Karena itu, pihaknya mencari informasi lebih lanjut dari pejabat lokal tentang serangan itu.

Gubernur Kivu Utara, Carly Nzanzu Kasivita mengatakan, kendaraan PBB dibajak oleh penyerang dan dibawa ke hutan.

Kemudian, tentara Kongo dan penjaga Taman Nasional Virunga datang untuk membantu mereka yang telah diserang.

"Terjadi baku tembak. Para penyerang menembaki pengawal dan duta besar itu," kata gubernur, menambahkan bahwa duta besar kemudian meninggal karena luka-luka.

Sementara kepala kelompok masyarakat sipil setempat, Mambo Kaway mengatakan, serangan itu terjadi di daerah yang sama di mana dua warga Inggris diculik oleh pria bersenjata tak dikenal pada 2018. "Situasinya sangat mencekam" katanya.

Kongo timur adalah tempat  bagi banyak kelompok pemberontak yang semuanya bersaing untuk menguasai negara Afrika Tengah yang kaya mineral seukuran Eropa Barat itu.

Lebih dari 2.000 warga sipil tewas tahun lalu di Kongo timur aksi kekerasan oleh kelompok bersenjata yang serangan brutalnya juga telah membuat lebih dari 5,2 juta orang mengungsi. Bahkan PBB menyebut Kongo Timur sebagai salah satu wilayah 'krisis kemanusiaan terburuk di dunia.'