Mata uang Garuda melemah 42 poin atau 0,3 persen dari Rp14.022 persen pada Senin (25/1). Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.086 per dolar AS atau melemah dari Rp14.082 per dolar AS pada Senin (25/1/2021).

Dikutip dari CNNIndonesia, rupiah melemah bersama won Korea Selatan minus 0,51 persen, ringgit Malaysia minus 0,1 persen, yen Jepang minus 0,02 persen, peso Filipina minus 0,02 persen, dolar Singapura minus 0,02 persen, dan baht Thailand minus 0,01 persen.

Beda nasib dengan yuan China yang menguat 0,12 persen, rupee India 0,03 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas ada di zona merah. Hanya franc Swiss yang menguat 0,01 persen.

Poundsterling Inggris melemah 0,27 persen, dolar Australia minus 0,23 persen, rubel Rusia minus 0,17 persen, dolar Kanada minus 0,06 persen, dan euro Eropa minus 0,02 persen.

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terkena sentimen tertundanya pemberian stimulus fiskal AS mencapai US$1,9 triliun.

Selain itu, pasar juga tengah menanti kebijakan dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Pasar juga menanti sejumlah data ekonomi yang bakal dirilis pada pekan ini. "Diperkirakan akan berujung pada keputusan mempertahankan suku bunga dalam kisaran nol persen sampai 0,25 persen," ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, rupiah tertekan dengan perpanjangan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal ini memberi sentimen negatif ke pasar keuangan domestik. "Dengan diperpanjangnya PPKM dan PSBB tentunya dapat mengurangi konsumsi masyarakat sehingga akan menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia yang berdampak negatif ke pasar," pungkasnya.

Hari ini, ada kabar yang bikin miris. Dalam sepuluh bulan pandemi COVID-19 di Indonesia, jumlah kasusnya mencapai 1.012.350 kasus. Di mana, grafik laju kasus tak kunjung melandai. Puncak pandemi pun tak juga terlihat.

Berbagai proyeksi mengenai puncak wabah sempat diungkap pemerintah. Presiden Joko Widodo bahkan telah memprediksi kasus memuncak Agustus-September 2020. Namun perkiraan itu meleset. Pada Agustus-September 2020 angka kasus harian berkisar di angka 2.000 sampai 4.000 kasus. Sedangkan pada Januari 2021, kasus harian naik berkali lipat hingga 10.000 lebih.

Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo pada Juli 2020 mengaku belum bisa memproyeksi kapan puncak kasus COVID-19 di Indonesia. "Kenapa Indonesia belum sampai puncak, saya juga belum tahu kapan puncak tiba," tutur Doni.