Pemulihan ekonomi Indonesia diperkirakan akan lebih lambat dari ekspektasi meskipun saat ini sudah vaksin Covid-19 sudah tersedia. Sebab, vaksin tak menjadi motor utama pemulihan ekonomi, terlebih angka penyebaran Covid-19 terus meningkat.

"Ada vaksin tetapi kasus harian tinggi. Akibatnya, banyak yang khawatir tertular virus ketika belanja, jalan-jalan atau makan di luar rumah. Kinerja konsumsi rumah tangga bisa kontraksi cukup dalam di kuartal I 2021. Awalnya ada optimisme tapi sepertinya pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat dari ekspektasi," ujar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira kepada Kontan, dikutip Selasa (26/1).

Bhima pun berpendapat adanya vaksin tak menjadi motor utama pemulihan ekonomi. Dia mengatakan, pemulihan ekonomi ini perlu ditopang oleh kenaikan stimulus pemerintah dan penanganan kasus harian Covid-19 yang lebih optimal.

Adapun, hingga saat ini jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia tersebut bertambah. Pada 25 Januari 2020 terdapat tambahan 9.994 kasus positif Covid-19 di Indonesia. Dengan begitu, maka total kasus positif di Indonesia sebanyak 999.256.  

Bhima menerangkan, kasus harian yang masih tinggi serta penerapan pembatasan sosial akan berdampak pula pada masyarakat yang menahan diri untuk berbelanja. Bahkan menurutnya, saat ini pemilik rekening di bawah Rp 100 juta turut melakukan penghematan.

"Sebelumnya kelas atas yang tahan uang di bank terlihat dari pertumbuhan simpanan yang tinggi. Saat ini ada kecenderungan pemilik rekening di bawah Rp 100 juta berhemat, bahkan yang sudah diberi insentif tunai dari pemerintah juga tidak langsung membelanjakan uangnya," jelas Bhima.