Kepala BKPM Bahlil Lahadia mengatakan ada sosok Abu Nawas dalam rantai investasi di Indonesia. Abu Nawas ini yang mengganggu investasi dengan pungutan liarnya (pungli). " Biaya pungli, macam-macam lah. Bapak-bapak CEO ini pasti tahu. Dulu pengalaman saya masih jadi pengusaha, biaya Abu Nawas paling banyak ini. Akhirnya produk kita tidak kompetitif," ujar Bahlil dalam acara virtual, Kamis (21/1/2021).

Kata dia, biaya Abu Nawas itu yang membuat produk yang dihasilkan tidak kompetitif. Lantaran, perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra dan terpaksa memberatkannya ke harga jual.   

Terbukti dari rasio produktivitas atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang masih mencapai 6,6. Angka itu lebih tinggi dari negara tetangga seperti Malaysia 4,5, Filipina 3,7, Thailand 4,4 dan Vietnam 4,6. Semakin tinggi ICOR, maka artinya tingkat efisiensi semakin rendah.

"Nah biaya Abu Nawas ini hanya bisa diselesaikan dengan cara2 transparan. Makanya izin-izin sekarang tidak boleh lagi pakai manual, kita sudah berbasis semua elektronik, berbasis OSS dan transparan. Bagi pengusaha sebenarnya adalah aksesnya harus mudah, kemudian kecepatan, transparansi dan kalau bisa lebih murah, itu lebih paten lagi," tandasnya.