Jadi, jangan kaget bila Uni Eropa akan terus memperkerakan kebijakan pemerintah Indonesia yang melarang ekspor bijih nikel mentah. Karena, pemerintah Indonesia ingin mengembangkan industri pengolahan nikel sehingga memiliki nilai tambah. Apalagi, nikel adalah mineral yang sangat prospektif khususnya untuk mengembangkan kendaraan bertenaga setrum alias listrik.

Kembali ke Uni Eropa yang sangat bernafsu untuk mengusai bijih nikel Indonesia. Kini, mereka mendesak Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) untuk membentuk panel guna membahas sengketa tersebut.

Sementara pemerintah Indonesia tetap berpegang pada kebijakan larangan eskpor bijih nikel. Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi menegaskan, pemerintah Indonesia siap menghadapi gugatan Uni Eropa hingga ke WTO.

Menurut Lutfi, Indonesia baru mendapatkan notifikasi bahwa Uni Eropa tetap akan melanjutkan proses sengketa ke WTO yang jadi wasit perdagangan antar-negara itu. "Tentunya kami sangat kecewa bahwa sudah ada konsultasi yang begitu lama. Tetapi ini bagian dari pada interaksi kita dengan dunia internasional, kita akan layani dan jalankan tuntutan tersebut," ujar Lutfi, dikutip Senin (18/1/2021).

Kronologi gugatan Uni Eropa bermula dari keberatan negara-negara Eropa atas larangan ekspor nikel mentah atau bijih nikel yang berlaku per 1 Januari 2020, meski kemudian pemerintah melakukan relaksasi.

Ini tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 11 tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).

Kebijakan pembatasan impor biji mentah nikel ini, dinilai tidak adil karena berimbas negatif terhadap industri baja di Benua Biru. Karena terbatasnya akses terhadap bijih nikel dan juga bijih mineral lainnya seperti bijih besi dan kromium.

Informasi saja, Indonesia saat ini, merupakan eksportir nikel terbesar kedua untuk industri baja bagi negara-negara Uni Eropa. Itu sebabnya, banyak industri logam di Eropa sangat bergantung pada bahan mentah dari Indonesia.

Pada penghujung 2020, Komisioner Perdagangan UE Cecilia Malmstrom, mengeluarkan pernyataan yang menyebut langkah Indonesia menyetop ekspor bijih nikel membuat industri baja di Eropa dalam ancaman besar.  "Terlepas dari usaha yang kami lakukan, Indonesia tetap tidak beranjak dari langkahnya dan mengumumkan larangan ekspor pada Januari 2020," kata Malmstrom.

Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir nikel terbesar dunia yang menguasai sekitar 27 persen pasar global. Kendati demikian, Indonesia selama puluhan tahun hanya mengekspor nikel mentah. Negara produsen nikel lainnya yakni Amerika Serikat, Australia, Bolivia, Brasil, China, dan beberapa negara Afrika.

Melansir Kompas, beberapa waktu lalu, Ekonom Enrico Tanuwidjaja, memaparkan bahwa nikel adalah mineral yang sangat berharga di masa depan karena pesatnya perkembangan kendaraan listrik. Nikel adalah salah satu logam terbesar dalam pembuatan baterai listrik. Lithium-ion ibarat jantung dari revolusi mobil listrik.  Kandungan baterai lithium-ion itu, terdiri dari anoda, katoda, dan elektrolit.

Nikel merupakan komponen logam yang dominan dalam komposisi baterai listrik, khususnya katoda. "Selama dua dekade terakhir, produsen telah berupaya meningkatkan kadar nikel dalam komponen bahan baku utama baterai mobil listrik, mengingat harga nikel relatif lebih murah," kata Enrico.

Bahkan dengan teknologi baterai lithium-ion yang semakin berkembang seiring pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik, kandungan nikel diprediksi akan semakin besar karena memiliki penyimpanan daya yang lebih baik. Peningkatan kandungan nikel dalam komposisi baterai akan meningkatkan kepadatan energinya sehingga mobil listrik akan memiliki kemampuan jarak tempuh yang lebih jauh. Bagi Indonesia, nikel merupakan komoditas mineral yang sangat strategi di pasar dunia bersama timah dan batubara.

Dengan mengolah bijih nikel di peleburan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan yang jauh berlipat ketimbang mengapalkan bijih nikel yang masih berupa 'tanah'. Bijih nikel yang diolak menjadi feronikel, misalnya, harganya meningkat dari US$55 per ton menjadi US$232 per ton, Atau nilai tambahnya mencapai 400 persen.

Nilai ekspor bijih nikel Indonesia ke Uni Eropa mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Tercatat, ekspor bijih nikel Indonesia naik signifikan sebesar 18% pada kuartal II-2019 dibandingkan dengan periode yang sama 2017.

Yang unik, China meskipun memiliki cadangan nikel yang besar, selama puluhan tahun lebih banyak mengimpor bijih nikel dari Indonesia dan negara produsen lain. Negeri Panda menyerap lebih dari 50 persen produksi nikel dunia untuk kebutuhan industrinya. Sementara itu, setelah rencana larangan ekspor bijih nikel, China bersikap lebih kooperatif dibandingkan Uni Eropa.

Negara ini jauh-jauh hari sudah mengamankan pasokan feronikel, salah satu hasil pemurnian bijih nikel, dengan menanam banyak modal untuk pembangunan smelter di Indonesia. Baik Eropa maupun China, sejak beberapa tahun terakhir gencar membangun industri kendaraan berbasis listrik yang lebih ramah lingkungan.