Rencana investasi dana haji senilai Rp 3 triliun kepada PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, sudah masuk ke dalam tahap finalisasi. Harapannya, dalam waktu dekat Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bisa melakukan investasi dalam bentuk kepemilikan saham dan pembelian obligasi subordinasi.

"Proses ini telah dimulai sejak tahun lalu dan saat ini dalam tahap finalisasi. Kami berharap proses ini dapat segera tuntas dalam waktu dekat," kata Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K. Permana seperti dikutip Kamis (14/1).

Permana menambahkan, BPKH merupakan institusi yang fit untuk menjadi investor Bank Muamalat. Semangat dan model bisnis BPKN yang fokus pengembangan segmen haji, dinilai cocok dengan target pasar yang juga menjadi fokus bisnis Bank Muamalat.

Meski begitu, penempatan investasi di Bank Muamalat berupa kepemilikan saham, belum bisa diperkirakan berapa porsinya kelak. Berdasarkan websitenya, saat ini ada 11 pihak pemegang saham Bank Muamalat, di antaranya Islamic Development Bank sebesar 32,74 persen, Bank Boubyan sebesar 22 persen, dan Atwill Holding Limited 17,91 persen.

Pengamat Ekonomi Syariah Yusuf Wibisono dikutip katadata.co.id, berpendapat, kondisi keuangan terkini Bank Muamalat memang sedang tidak baik dan membutuhkan tambahan modal untuk ekspansi bisnis serta memperbaiki kinerjanya.

"Namun sebagai bank syariah pertama, Bank Muamalat memiliki brand equity yang kuat dan segment deposan yang loyal," ujar Yusuf, Rabu (13/1).

Dengan risk appetite selama ini, BPKH mempunyai peluang besar untuk memperbaiki kinerja bank syariah pertama di Tanah Air tersebut. Dengan begitu, Bank Muamalat bisa mendapatkan return yang kompetitif.

Anggota Badan Pelaksana BPKH Iskandar Zulkarnain mengatakan, investasi di Bank Muamalat akan berbentuk dua hal yakni penambahan saham sebesar Rp 1 triliun dan subdebt Rp 2 triliun.

"Saat ini sudah ada kajian dari lembaga eksternal dan sedang kami proses internal." ujarnya dalam Laporan Kinerja dan Perkembangan Pengelolaan Dana Haji 2020 secara virtual, Rabu (13/1).