Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerima suntikan vaksin Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang disebut produksi Sinovac, China oleh dokter kepresidenan Prof. Dr. Abdul Muthalib didamping Wakil Ketua Tim Dokter Kepresidenan di Istana Negara, Rabu (13/01/2021).

Presiden Jokowi yang mengenakan kemaja putih lengan pendek mengikuti semua prosedur yang diarahkan oleh Prof. Dr. Abdul Muthalib dengan baik. Jokowi tampak percaya diri sejak pertama kali melangkahkan kaki menuju meja pendaftaran hingga duduk di kursi yang disiapkan khusus.

Langkah Jokowi yang bersedia disuntik vaksin Sinovac tersebut menjadi sorotan dunia. Sejumlah media asing mengunggah laporannya menjadi headline seperti yang dilakukan Channel News Asia.

Dalam beritanya yang diunggah Rabu (13/01/2021), media asal Singapura ini menulis Presiden Jokowi meresmikan vaksinasi massal di Indonesia dengan suntikan Sinovac dengan judul berita, 'President Jokowi gets Sinovac jab to officially launch Indonesia's COVID-19 vaccination programme.'

Dalam laporan itu, CNA menulis bahwa Indonesia adalah negara pertama di dunia selain China yang menyetujui penggunaan vaksin ini secara nasional.

"CoronaVac dari Sinovac bekerja dengan menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk mengekspos sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Ini membutuhkan dua dosis agar efektif. Dengan Jokowi menerima suntikan, program vaksinasi di Indonesia secara resmi dimulai," tulisnya.

Pemberitaan serupa juga dirilis oleh media-media terkemuka seperti Reuters, South China Morning Post dan tentu saja media asal negara vaksin itu sendiri, Global Times.

"Presiden Indonesia Joko Widodo menerima dosis pertama vaksin virus corona Sinovac Biotech bernama CoronaVac pada Rabu, menjadi orang pertama di negara yang divaksinasi. Indonesia memulai kampanye imunisasi nasional pada hari Rabu."

Seperti diketahui, deretan negara lainnya juga melakukan vaksin COVID-19 secara nasional adalah calon penghuni Gedung Putih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden dan Raja Salman dari Arab. Tak seperti Jokowi, kedua pemimpin negara besar itu kompak memilih Pfizer untuk disuntikkan ke diri sendiri dan masyarakat yang dipimpinnya.

Joe Biden menerima dosis kedua vaksin COVID-19 produksi Pfizer pada Senin (11/01/2021) waktu setempat setelah setelah empat minggu diberikan suntikan pertama pada Senin (21/12/2020). Biden disuntik dosis kedua vaksin Pfizer-BioNTech di sebuah rumah sakit di Newark, Delaware, negara bagian yang menjadi tempat kelahirannya dan markas transisinya. 

Usai disuntik, Joe Biden mendesak masyrakat AS untuk terus memakai masker seraya melambaikan masker hitam miliknya. 

“Saya yakin kita bisa menyelesaikan apa yang harus kita selesaikan,” ungkap Joe Biden.

Vaksin Pfizer-BioNTech, bersama dengan vaksin Moderna, didistribusikan ke seluruh AS setelah mendapatkan izin penggunaan darurat. Vaksin tersebut memerlukan dua dosis untuk disuntikkan dengan selang waktu beberapa minggu. Begitu juga dengan vaksin Moderna.

Sama halnya dengan Joe Biden, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, dilaporkan telah menerima suntikan vaksin COVID-19. Dalam suntikan ini, Raja Arab Saudi itu menggunakan vaksin besutan Pfizer-BioNTech.

Menteri Kesehatan Tawfiq Al Rabiah mengatakan Raja Salman menerima suntikan vaksin itu di kota Neom.

"Hari ini (Sabtu), raja menerima vaksin untuk mencegahnya menerima virus, dan inisiatif ini menegaskan kebijakan Kerajaan selalu pencegahan sebelum pengobatan," ujar Al Rabiah Dikutip Arab News, Sabtu (09/01/2021)

"Terimakasih kepada raja yang telah memberikan semua jenis dukungan untuk kepentingan warga dan warga sejak awal pandemi hingga saat ini," tambahnya.

Arab Saudi adalah negara Teluk kedua setelah Bahrain yang menyetujui penggunaan vaksin tersebut, yang dikembangkan oleh raksasa farmasi AS Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech.

Beberapa kepala negara di atas sudah menunjukkan sikap kesatria, menjadi orang pertama yang diberi suntikan vaksin dengan tujuan menekan hingga memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Masing-masing memiliki pilihan berbada dalam menentukan merk vaksin. 

Masyarakat yang sudah dikonfirmasi mendapatkan vaksinasi dipersilahkan menunggu giliran, sementara yang lain menunggu efektivitas kedua jenis vaksin tersebut.