Pengadilan Turki memvonis 1.075 tahun penjara bagi Adnan Oktar alias Adnan Hoca, alias Harun Yahya. Vonis dikeluarkan oleh pengadilan di Istanbul, Turki, hari Senin (11/01/2021).

Ia dinyatakan bersalah dalam kasus kejahatan seksual. Menurut stasiun televisi NTV, kejahatan yang dituduhkan ke Oktar mencakup serangan seksual, pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, penipuan, dan upaya melakukan mata-mata politik dan militer.

Jaksa mengatakan, pria 64 tahun itu memimpin organisasi yang digambarkan sebagai organisasi kriminal.

Harun Yahya ditangkap 2018. Kala itu polisi menggerebek sejumlah tempat terkait Harun Yahya dan kelompoknya.

Tempat-tempat itu tersebar di lima provinsi di Turki. Harun Yahya sendiri ditangkap di Istanbul, di kediamannya, di kawasan Cengelkoy.

Penggerebekan dilakukan terkait dugaan kejahatan finansial, penipuan, pelecehan seksual, hingga tindak pidana konspiratif yang dilakukan Harun Yahya dan kelompoknya.



Dilansir The Guardian, Selasa, 12 Januari, kasus itu jadi kali kedua Harun Yahya dan organisasinya berurusan dengan hukum. Harun Yahya kemudian ditahan. Kasus pertama yang melibatkan Harun Yahya dan kelompoknya terjadi pada 1999.

Kala itu Harun Yahya ditangkap dengan tuduhan intimidasi dan pendirian kelompok kriminal. Harun Yahya juga sempat ditahan meski penyelidikan atas kasus tersebut kemudian dihentikan.

Terkait kasus Harun Yahya ini, otoritas hukum Turki menangkap 236 tersangka lain. Mereka telah diadili, dengan 78 di antaranya ditahan.



Siapa Adnan Oktar alias Adnan Hoca alias Harun Yahya sebenarnya? Ia dikenal sebagai figur flamboyan yang mendirikan organisasi Islam di Istanbul pada 1980-an.

Namanya mencuri perhatian masyarakat pada 1990-an karena menjadi pemimpin sebuah sekte yang kemudian terkait dengan sejumlah kasus skandal seks.

Dia lantas menulis buku 'Atlas Penciptaan' dengan nama pena Harun Yahya, untuk menyangkal keras Teori Evolusi Charles Darwin. Nama pena Oktar adalah gabungan dari dua nama nabi, Yakni Nabi Harun dan Nabi Yahya.

Dalam wawancara dengan wartawan BBC Andrew Marr pada 2010, Oktar mengatakan bahwa teori Darwin adalah sumber inspirasi utama para teroris era modern.

"Hitler, Mussolini, Stalin dan banyak teroris terkenal lainnya dengan jelas mengatakan bahwa pemikiran mereka dipengaruhi oleh Darwin... tanpa Darwin tidak akan ada terorisme," tegas Oktar.

Ia menegaskan Hitler bisa berkuasa atas peran yang ia sebut sebagai 'elemen negara Inggris'.

Ini adalah teori konspirasi yang mengklaim bahwa terdapat kelompok yang sangat kuat yang punya hubungan dengan pemerintah dan militer yang punya kapasitas memanipulasi dan mengontrol kebijakan pemerintah.

Oktar bisa disebut sebagai 'pemikir yang berbahaya' atau 'pemikir yang berpengaruh'. Yang pasti, ia dikenal aktif mengkampanyekan gerakan anti-Semitisme. Ia menolak Holokaus.

Setelah serangan teroris pada 11 September di Amerika Serikat, Oktar mulai menunjukan dirinya sebagai pegiat lintas agama, seseorang yang mendukung dialog antaragama dan membantu perang terhadap terorisme internasional.