Hasil investigasi Majalah Tempo menyebut, putera Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka ikut terseret dalam kasus korupsi Bantuan Sosial (Bansos) COVID-19 Kementerian Sosial (Kemensos). Buntutnya, tagar #TangkapAnakPakLurah pun trending di Twitter, Minggu (20/12/2020).

Merespons hal tersebut, Anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera mengingatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak gentar dan tetap berani mengusut tuntas kasus ini, mengingat yang diduga terlibat merupakan nama-nama besar.

“Perlu keberanian @KPK_RI untuk mengusut tuntas. Dan perlu dukungan semua pihak kepada KPK untuk memberantas korupsi tanpa tebang pilih,” kata Mardani Ali Sera di akun Twitternya @MardaniAliSera.

Mardani Ali Sera juga mengingatkan kepada KPK agar tidak tebang pilih dalam menangani kasus korupsi Bansos yang semakin menggurita tersebut.

Mardani meminta dukungan kepada seluruh pihak agar bersama-sama menguak dan mengusut tuntas kasus ini meski pun di dalamnya terdapat banyak nama-nama besar yang menjadi penguasa negeri.

Dalam cuitannya, Mardani Ali Sera mengunggah tangkapan layar majalah Tempo yang menguak soal korupsi Bansos tersebut yang membawa nama Gibran dan PT. Sritex yang diduga berperan sebagai pemasok tas sembako bansos.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hendrawan Supratikno mengaku belum mengetahui kabar tersebut.

“Belum (dengar soal Gibran terlibat skandal bansos), masih di Dapil mengevaluasi pilkada,” kata Hendrawan Supratikno, Minggu (20/12/2020).

Hendrawan Supratikno juga enggan berkomentar tentang kabar dana hasil korupsi bansos yang disangkakan kepada eks Menteri Sosial Juliari Peter Batubara itu mengalir ke PDIP untuk memenangkan gelaran Pilkada 2020.

“No comment,” kata Hendrawan singkat.

Sebaliknya, Wakil Sekjen Partai Demokrat, berkomentar, jika hal itu benar terjadi, Jokowi pasti sudah mengetahui sikap apa yang harus dia ambil.

"Kalau benar Gibran ada dalam skema bancakan peggadaan bansos, Pak Jokoei semestinya tahu apa yang sekarang harus dia lakukan," tulis Andi Arief di akun media sosial pribadinya @Andiarief__ Minggu (20/12/2020).

Cuitan tersebut direspons banyak netizen. Salah satunya akun milik @M_YusufD yang berkomentar.

“Sebagai orangtua yang baik dan sayang terhadap anak, tentu akan membela serta melindungi anaknya, apapun perbuatan anak anaknya,” ujarnya.

Komentar "orangtua" tersebut diduga mengarah pada Presiden Jokowi. Sementara anak yang dimaksud diduga adalah Gibran Rakabuming yang beberapa waktu lalu baru saja memenangi Pilkada Wali Kota Solo.

Terseretnya nama Gibran tentu saja akan menyorot nama Presiden Jokowi sebagai ayahnya. Meski demikian, Andi Arief berharap Presiden Jokowi mengambil langkah yang tepat dalam menanggapi kasus korupsi Bansos ini.

Menurut hasil investigasi Majalah Tempo, Gibran disebut merekomendasikan PT Sritex untuk terlibat dalam proyek bansos kepada Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara yang juga kini berstatus tersangka dalam kasus ini. Mengutip Tempo, Juliari disebut memerintahkan dua stafnya untuk menghentikan pencarian vendor penyedia tas goodie bag bansos karena akan diproduksi Sritex.

Kepada Tempo, dua staf itu mengatakan bahwa Sritex merupakan rekomendasi Gibran yang disebut anak 'Pak Lurah'.

Wakil Sekretraris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief juga turut meramaikan tagar tersebut di Twitter. Ia mempertanyakan kebenaran sebutan Anak Pak Lurah yang menjadi viral di Twitter.

"Benarkah Gibran anak Pak Lurah?" ujar Andi seperti dikutip dari Twitternya.

Tekait tulisan Tempo yang menyebutkan bahwa PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex) merupakan rekomendasi Gibaran Rakabuming Raka sebagai pembuat goodie bag bansos COVID-19, pihak Sritex menyatakan, kontribusi perseroan dalam program bansos berbentuk bahan pokok tidak berasal dari rekomendasi anak presiden Joko Widodo, Walikota Surakarta Terpilih Gibran Rakabuming Raka.

Perseroan menyatakan, partisipasi dalam program tersebut dimulai dari pertemuan antara pihak Kementerian Sosial (Kemensos) dan perseroan.

"Sritex mendapatkan pesanan goodie bag bansos setelah di-approach oleh pihak Kemensos. Pada saat itu kami disampaikan bahwa kebutuhannya mendesak alias urgent," kata Head of Corporate Communication Sritex Joy Citradewi, Minggu (20/12/2020).

Joy menambahkan Kemensos kemudian melakukan pesanan dalam jumlah besar sekitar 1 bulan setelah pandemi COVID-19. Meski demikian dirinya tidak dapat menjabarkan jumlah pesanan maupun nilai kontrak yang diterima pihaknya dengan pemerintah. Hal ini lantaran kontrak antara Kemensos dan Sritex memiliki pasal kerahasiaan.

Sementara itu, diwartakan Solopos, pesanan tas oleh Kemensos melibatkan 30.000 tenaga kerja. Adapun, total tas sederhana yang ada dalam kontrak antara Kemensos dan Sritex adalah 1,9 juta unit.

Untuk menyelesaikan pesanan ini, Sritex melibatkan 30 mitra kerja yang tersebar di wilayah Solo Raya untuk menyelesaikan pesanan.