Sejak kepulangannya dari Arab Saudi, Pemimpin Tertinggi Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab terus jadi pemberitaan. Terkahir, ketika dirinya harus dirawat di RS. Ummi, Kota Bogor, Jawa Barat dengan alasan kelelahan. Pada masa pandemi Corona Virus 2019 atau COVID-19 seperti sekarang ini, pemberitaan bahwa Rizieq Shihab terinfeksi virus mematikan tersebut pun langsung berseliweran.

Ketika pihak RS Ummi menyatakan bahwa kondisi Rizieq Shihab baik-baik saja, tak membuat Satgas COVID-19 Kota Bogor yang digawangi Bima Arya Sugiarto percaya begitu saja. Wali Kota Bogor itu pun 'mengintervensi' RS Ummi agar melakukan tes swab ulang terhadap Rizieq Shihab yang lantas dijawab ditolak oleh pihak keluarga.

Puncaknya, ketika Rizieq Shihab dan keluarga ternyata sudah tidak dirawat lagi di RS Ummi, berbagai kabar menyebutkan bahwa pasien 'istimewa' itu telah kabur dari pintu belakang, Sabtu malam (28/11/2020). Hal itu pun membuat Bima Arya berang dan bahkan sudah mempolisikan pihak RS Ummi.

Sikap Bima Arya terhadap Rizieq Shihab tersebut dinilai sudah melanggar etika kedokteran. Hal itu dinyatakan, Ketua Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad. Dia secara tegas menyayangkan sikap Bima Arya yang melakukan intervensi terhadap pihak RS Ummi yang menangani perawatan Rizieq Shihab. MER-C meminta agar semua pihak tidak membuat kegaduhan dan memberi kepercayaan kepada tim medis yang bertugas.  
Tak hanya itu, dr Sarbini Abdul Murad, menyayangkan sikap Bima Arya yang mempublikasikan kondisi Rizieq Shihab sebagai pasien kepada publik. Tindakan ini dinilai tidak beretika dan dapat menimbulkan kesimpangsiuran serta keresahan bagi masyarakat.

"Perihal menyampaikan kondisi kesehatan adalah domain keluarga. Bahkan pihak RS atau dokter yang merawat tidak memiliki hak untuk menyampaikan tanpa seizin keluarga," jelas Sarbini Abdul Murad dalam pernyataan resminya, Sabtu (28/11/2020). 

Sarbini Abdul Murad menilai Bima Arya perlu belajar etika kedokteran terkait independensi tenaga medis dalam bekerja. Selain itu, Sarbini Abdul Murad juga mengatakan, Bima Arya perlu belajar tentang hak pasien dalam menerima atau menolak semua upaya pemeriksaan dan pengobatan yang akan diberikan tanpa intervensi atau tekanan pihak mana pun.

"Jangankan dalam situasi normal, di daerah bencana dan peperangan saja, selaku tenaga medis kita wajib menjaga profesionalitas dan menghormati hak-hak pasien," tambah Sarbini Abdul Murad. 

Oleh karena itu, Sarbini Abdul Murad meminta agar Bima Arya mempercayakan penanganan Rizieq Shihab kepada pihak rumah sakit dan tim medis yang menangani. Sarbini memastikan abhwa tim medis mengetahui langkah-langkah apa saja yang perlu dan tidak perlu dilakukan untuk menangani pasien.

"Saat ini semua pemeriksaan yang perlu dilakukan tengah berjalan dan pengobatan akan dijalankan sesuai dengan masalah kesehatan yang ditemukan," ujar Sarbini Abdul Murad. 

Selain itu, Sarbini Abdul Murad juga mengimbau agar semua pihak tidak membuat kegaduhan atas kondisi saat ini. Dia meminta agar semua pihak bisa menghormati hak privasi Rizieq Shihab sebagai pasien dan mempercayakan penanganan sepenuhnya kepada tim medis.

Di masa pandemi COVID-19, Sarbini Abdul Murad menyebut, masalah kesehatan seringkali menimbulkan polemik karena selalu dikaitkan dengan COVID-19. Polemik ini semakin rumit karena adanya perbedaan persepsi antara masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menyikapi COVID-19.

Stigmatisasi, kurangnya empati dan menghormati hak provasi pasien dinilai turut memunculkan jurang yang cukup besar antara masyarakat dan petugas pemerintah.

"Oleh karena itu, perlu kembali kepada profesionalitas dan etika dan hukum kedokteran di mana menjunjung tinggi hak-hak pasien," tegas Sarbini Abdul Murad. 

MER-C, lanjut Sarbini, telah berpengalaman dalam memberikan abntuan medis dan kesehatan kepada siapa saja. Konsep kemnusiaan MER-C yang rahmatan lil alamin menjunjung independensi dan netralitas dalam memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan.

"MER-C menolong siapa saja tanpa membedakan latar belakang masalahnya. Sebut saja Panglima GAM, alm Ishak Daud, Komjen Polisi Susno Duadji, Ust Abu Bakar Baasyir, para terduga terorisme, dan sebagainya," urainya.

Nyawa Rizieq Shihab Terancam

Cuitan Tifatul Sembiring di Twitter yang Menyebut bahwa Nyawa Rizieq Shihab Terancam

Komentar tentang sikap Bima Arya terkait RS Ummi yang merawat Rizieq Shihab juga datang dari mantan Menteri Komunikasi dan Informatika pada periode 2009–2014 yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring. 

Tifatul Sembiring merasa beberapa pejabat agar 'over acting' dalam bersikap terkait Rizieq Shihab. 

"Kok saya merasa beberapa pejabat agak ‘over acting’ ya, bersikap thd Habib Rizieq. Bahkan diingatkan hal tsb bukan tupoksi mereka, masih aja ngotot. Mas Bima, apakah semua pasien di Bogor anda perlakukan sama spt ini...?" cuit Tifatul Sembiring melalui akun twitter @tifsembiring miliknya.

Seorang wollower-nya bernama Bang Ali dengan akun @BangAli09 merespons komentarnya, "Buat Saya yg dilakukan Pak Bima wajar .. yg dia urus banyak bukan HRS Aja, kebetulan dia di Bogor .. jadi sudah saudara saudara Kita satu Indonesia .."

Menjawab komentar tersebut, Tifatul Sembiring lantas menjawab, "Saya cuma tanya mas, yg mungkin terkontaminasi covid di Bogor, kan bukan hanya Habieb,  paling tidak ratusan, mungkin ribuan. Walikota ngurusin kayak gini nggak, satu persatu dan diumumkan ke media. RS itu tempat orang berobat, butuh ketenangan. Ini di kuyo2 terus..." 

Bang Ali kembali menbalas, "Saya yakin Pak Bima ngurusin Pak bukan cuma ribuan .. mungkin jutaan warga Bogor, Dan sudah tugas kepala daerah .. Kebetulan HRS tokoh Pak Dan kebetulan Juga tidak mau membuka diri terkait kesehatanya .. Tapi Mari Kita sama2 menjaga hati Lisan & tulisan Kita 1 Indonesia pak."

Menjawab balasan Bang Ali yang cenderung membenarkan sikap para pejabat tersebut, Tifatul Sembiring pada akhirnya mengatakan bahwa nyawa Rizieq Shihab terancam.

"Beliau tidak membuka diri itu info dari mana, cobalah tabayyun dulu mas. Anda bilang kan jaga lisan dan tulisan. HRS cerita langsung ke saya, mengapa beliau ‘hrs ngungsi’ ke Saudi. Nyawanya terancam..."

Namun demikian, Tifatul Sembiring tak menjelaskan secara lebih detail tentang ucapannya yang menyebutkan bahwa nyawa Rizieq Shihab terancam.