Realisasi belanja negara hingga 31 Oktober 2020 mencapai Rp 2.041 triliun. Realisasi itu mencapai 74,5 persen dari total pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada Perpres 72/2020 yang sebesar Rp 2.739,2 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, realisasi belanja negara menujukan pertumbuhan sekitar 13,6 persen year on year (yoy) dari tahun 2019 yang hanya sekitar Rp 1.797 triliun.

Jika dirinci berdasarkan jenis belanja negara terbagi menjadi dua yakni belanja pemerintah pusat yang terdiri dari belanja K/L dan belanja Non K/L serta transfer dana ke daerah dan dana desa (TKDD).

Dalam paparan APBN KiTa edisi November 2020, Menkeu memaparkan realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.343,8 triliun dari total pagu pada Perpres 72/2020 yang sebesar Rp 1.975,2 triliun. Adapun realisasi ini telah mencapai 68 persen dari total pagi.

“Realisasi belanja pemerintah pusat juga tumbuh 19,9 persen yoy dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 1.120,8 triliun,” jelas Menkeu dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Senin (23/11).

Adapun dalam realisasi belanja pemerintah pusat juga terbagi dari realisasi belanja K/L yang mencapai Rp725,7 triliun hingga Oktober 2020 dari total pagu Rp 836,4 triliun atau meningkat 14,6 persen.

Dalam realisasi belanja K/L, data Kemenkeu menunjukkan belanja pegawai mengalami penurunan 1,7 persen dengan realisasi Rp 201,1 triliun dibandingkan tahun 2019 yang sekitar Rp 204,4 triliun.

Kemudian belanja barang menunjukkan kenaikan hingga 11,7 persen yoy dengan realisasi mencapai Rp 271,7 triliun. Selanjutnya belanja modal terkoreksi minus 11,0 persen yoy dengan realisasi hanya Rp 89,7 triliun. Serta belanja bantuan sosial yang tumbuh pesat mencapai Rp 170,9 triliun atau tumbuh 86,3 persen yoy dibanding tahun lalu.

Selanjutnya, realisasi belanja Non K/L dalam rangka penanganan Covid-19 melonjak sangat tinggi mencapai Rp 618,2 triliun dari total pagu Rp 1.138,9 triliun pada Perpres 72/2020.

“Realisasi ini juga tumbuh 26,8 persen yoy jika dibandingkan realisasi belanja non K/L tahun lalu yang hanya Rp 487,5 triliun,” tambah Sri Mulyani dikutip Kontan.

Sri Mulyani mengatakan realisasi belanja negara ini menunjukkan adanya berbagai tindakan untuk mengakselerasi belanja dalam rangka meminimalkan dampak Covid-19 serta mempercepat tren perbaikan ekonomi Indonesia.