Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan pemerintah serius menggarap produksi vaksin Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 lokal yakni, vaksin merah putih. Namun demikian, kata Erick Thohir, pemerintah juga tengah berupaya mengimpor bahan baku vaksin hingga vaksin jadi dari luar negeri.

Dikatakannya, impor bahan baku vaksin atau vaksin dalam bentuk jadi merupakan langkah jangka pendek pemerintah menanggulangi pandemi COVID-19. 

"Saya rasa kita tidak bisa melihat ini hanya jangka pendek, tapi juga jangka panjang, berarti tidak mungkin kita impor terus apalagi kita Indonesia punya kapabilitas memproduksi vaksin," ujar Erick dalam acara 'Menanti Vaksin COVID-19' di Metro TV pada Jumat (20/11/2020).

Dalam kunjungannya ke Inggris dan Swiss beberapa waktu lalu, Erick Thohir menyebut, Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) telah mengakui PT Bio Farma (Persero) sebagai perusahaan Indonesia yang memiliki kualitas mumpuni untuk memproduksi vaksin.

WHO, lanjut Erick, memperkirakan kebutuhan vaksin COVID-19 selama tiga tahun ke depan mencapai 16 miliar dosis dengan total kapasitas produksi vaksin seluruh dunia yang sekitar 4 miliar dosis. Hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mampu menjadi produsen vaksin COVID-19.

"Kami dari Kementerian BUMN ingin sekali kita menjadi sentra vaksin buat Asia Tenggara atau lebih besar dari Asia Tenggara. Ini menjadi kesempatan kita karena selama ini Bio Farma karena sudah punya di 15 sampai 150 negara yang untuk vaksin polio," ujar Erick Thohir.

Dengan populasi penduduk yang besar, kata Erick, produksi vaksin lokal akan sangat berguna bagi masyarakat. Erick Thohir menyebut, produk vaksin merah putih akan diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Sedangkan sisanya baru akan diekspor ke negara lain.

Erick Thohir mengatakan upaya menjadikan Indonesia sebagai sentra vaksin Asia Tenggara dilakukan dengan meningkatkan kapasitas produksi Bio Farma dari 100 juta dosis menjadi 250 juta dosis. 

Erick memperkirakan kapasitas produksi vaksin bisa mencapai 500 juta hingga 750 juta apabila digabungkan dengan kapasitas dari perusahaan swasta hingga fasilitas TNI/Polri di Indonesia.

Angka tersebut melebihi jumlah penduduk Indonesia sehingga impor vaksin sejatinya sudah tak lagi diperlukan. 

"Saya yakin kalau vaksin merah putih jadi, banyak negara Asia Tenggara ingin kerja sama uji klinis, kita akan jadi sentra vaksin COVID-19 di Asia Tenggara," kata Erick menambahkan.