Padahal, secara potensi, masih banyak bidang (core) bisnis yang bisa disasar UMKM. Sehingga tak perlu saling intip di antara UMKM demi meraup pundi-pundi ekonomi. "UMKM kita masih banyak yang menggarap bisnis suplai konsumsi. Contoh saja, di Jakarta setiap 100 rumah ada 25 warung. Mestinya kita jangan terlalu nyaman di bisnis makanan saja," kata Teten pada Pencanangan Gerakan Inovasi dan Transformasi Digital di Kota Bandung.

Menurut dia, UMKM di Indonesia belum banyak yang menggarap bisnis produk suplai pasok. Padahal, segmen ini memiliki potensi cukup besar. Misalnya bergerak membuat rangka motor, onderdil mobil, alat kesehatan, pertanian, dan lainnya. "Alat kesehatan di kita ini kan masih banyak produk impor. Padahal kam cuman bikin rak, masa kita enggak bisa. Di beberapa negara, potensi ini yang banyak digarap. Mereka cepat bergerak," kata Teten.

Dia menyebut, pelaku usaha yang bergerak di suplai pasok masih minim, tetapi sudah mulai bermunculan. Terutama produk custom motor. Bahkan, ada rangka motor yang sudah dilirik negara lain. Secara potensi, kata dia, Indonesia memiliki market cukup besar. Pada tahun 2025, potensi market digital diperkirakan mencapai Rp1.700 Triliun. Potensi ini mestinya bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Selain UMKM, Teten juga mendorong koperasi go digital. Tercatat koperasi yang telah terdigitalisasi baru sekitar 906 koperasi atau 0,73 persen dari 123.000 koperasi aktif di Indonesia. “Transformasi koperasi terhadap teknologi digital harus kita lakukan. Sekarang adalah era digital kita tidak mungkin keluar dari era ini. Semua sekarang sudah terhubung dalam ekosistem digital,” lanjut pendiri ICW itu.

Digitalisasi koperasi menjadi instrumen bagi koperasi untuk meningkatkan pelayanan, transparansi, akuntabilitas sehingga masyarakat yang menjadi anggota koperasi dapat terlayani dengan optimal dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.“Saat ini harus diakui koperasi masih dianggap jadul, tidak modern, layanan lambat, akuntabilitas buruk. Ini momentum kita membalik stigma itu, koperasi bisa tambil juga lebih hebat dari korporasi. Koperasi bisa menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik,” tegasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan, proses digitalisasi bagi koperasi sangat dibutuhkan. Tidak hanya penyajian bisnis koperasi dan laporan keuangan, membantu dalam pembiayaan akses ke lembaga keuangan, penyajian data secara real time yang dibutuhkan pengurus dan anggota.

Pengembangan koperasi secara digital di koperasi sangat tinggi di Jawa Barat. Penetrasi pengunaan internet di Jabar mencapai 58 persen, indeks daya saing digital di Jawa Barat berada pada peringkat kedua nasional. Secara infrastruktur dan SDM Jawa Barat sangat siap, yang didukung penduduk usia produktif memasuki era bonus demografi, di mana 38,9 juta memasuki usia 80 persen penduduk Jawa Barat memasuki usia produktif.