Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan mengungkapkan informasi menarik terkait internal BUMN. Katanya, ada banyak jenis-jenis komisaris yang ada di perusahaan pelat merah.

Dari info Dahlan ini, mulai tampak gambaran bagaimana seorang komisaris bekerja di BUMN.

Pertama, Dahlan menyebut ada tipe komisaris yang merasa lebih penting dari direksi BUMN. Komisaris tipe ini, lanjut Dahlan, bisa menolak rencana atau program direksi. Bahkan program direksi harus mendapat persetujuan si komisaris.

"Yang paling hebat, dewan komisaris bisa memberhentikan direksi meski sifatnya hanya sementara," ujar Dahlan seperti dikutip dari laman pribadinya, Disway.id, Jumat, 20 November 2020.

Kedua, katanya, ada komisaris yang ikut saja alias manut apa kata direksi. Sikap mereka cenderung pragmatis, dan pada kondisi ini direksi adalah yang paling tahu seluk beluk perusahaan.

"Apalagi mereka duduk sebagai komisaris di situ memang hanya sebagai hadiah. yang penting menerima gaji setiap bulan, dan ikut menerima tantiem setiap tahun dari laba perusahaan," kata dia.

Dahlan melanjutkan, komisaris tipe ini memang tidak punya latar belakang yang cukup mengenai kiprah perusahaan. Prinsip mereka adalah dari pada sok tahu dan akhirnya jadi penghambat, lebih baik bersikap setuju saja atas rencana direksi.

Dia memperoleh kebanggaan menjabat sebagai komisaris BUMN. Apalagi jika BUMN-nya besar dan prestisius.

Tipe ketiga, adalah komisaris yang memang hobi mencampuri urusan direksi, bahkan hingga ke hal-hal kecil. Mereka kadang bersikap lebih 'direksi' daripada direksi.

"Di antara jenis yang satu itu, ada yang motifnya agar perusahaan lebih maju atau lebih bersih. Tapi ada juga yang motifnya agar ditakuti oleh direksi," tutur mantan Direktur Utama PLN ini.

Selanjutnya, ada tipe komisaris yang tidak banyak tahu soal bisnis perusahaan. Tapi, dia merasa layak saja jadi komisaris. Meskipun sebetulnya mereka dibantu oleh komite yang dibentuk oleh komisaris lewat biaya perusahaan.

"Untuk komisaris jenis ini, para anggota komite itulah yang sebenarnya benar-benar komisaris. Komisarisnya sendiri, kalau mampu mengajukan pertanyaan ke direksi, pertanyaan itu datangnya dari komite tersebut," kata Dahlan. 

Lantas manakah hubungan komisaris-direksi yang ideal?

Jenis yang ideal, menurut Dahlan seperti dikutip Viva, adalah direksi yang menghormati komisaris dan komisaris jangan pula bersikap sok mencampuri direksi.

"Yang terbaik adalah: jangan komisaris yang menghambat direksi. Kalau ada komisaris yang tidak setuju dengan dengan rencana direksi katakan dengan cepat, lengkap dengan alasan agar direksi segera cari alternatif," kata Dahlan.

Sejatinya, Dahlan mengatakan, dewan komisaris di BUMN berbeda dengan perusahaan swasta. Dewan komisaris di perusahaan swasta biasanya pemilik langsung perusahaan.

"Di swasta, direksi memang takut dan tunduk kepada dewan komisaris. Itu bukan lantaran jabatan komisarisnya, melainkan karena ia adalah pemiliknya," kata Dahlan.

Sedangkan di BUMN, dewan komisaris adalah bukan pemegang saham. Dia hanya wakil dari pemerintah, yang biasanya hanya untuk wakil sehari-hari. 

"Dewan komisaris di sebuah perusahaan BUMN bukanlah pula seperti dewan pembina di suatu partai politik," kata Dahlan.