Pfizer membuat sejarah dengan hasil uji coba Vaksin Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang sudah memasuki tahap akhir. Vaksin yang dikembangkan dengan mitra Jerman BioNTech ini memiliki kemanjuran lebih dari 90 persen, per data uji klinis awal.

Tercatat, ini adalah vaksin tercepat yang pernah dikembangkan dan kemanjurannya jauh lebih tinggi dari pada yang diharapkan oleh 70 persen atau 80 persen ahli virologi. Itu kabar baik untuk masa depan pandemi COVID-19 yang sudah menelan jutaan korban.

Lalu, siapa sebenarnya yang berada di balik vaksin yang saat ini menjadi rebutan hampir seluruh negara di dunia tersebut? Mereka adalah Dr Ugur Sahin dan sang isteri tercinta Dr Ozlem Türeci. Ugur Sahin merupakan CEO BioNTech yang memproduksi vaksin Pfizer, sedangkan isterinya Ozlem Türeci merupakan Kepala Petugas Medis BioNTech. 

Seperti dilansir melalui Insider pasangan ini melewati ambang batas miliarder pada bulan Juni, karena saham BioNTech melonjak setelah pakta kerjasama dengan Pfizer diumumkan. Lonjakan saham lain terjadi setelah data uji coba awal mengungkit kekayaan bersama mereka meningkat menjadi hampir US$4 miliar.

"Ini bisa menjadi awal dari akhir era COVID-19," kata Ugur Sahin kepada New York Times, seperti dikutip Kamis (12/11/2020).

Menurut The New York Times, pasangan ini bertemu secara tidak sengaja. Ugur Sahin bermigrasi ke Jerman dari Turki ketika dia berusia 4 tahun dan Ozlem Türeci lahir di Jerman.

Ugur Sahin berasal dari Iskenderun, sebuah kota dekat perbatasan Suriah, sedangkan ayah Ozlem Türeci berasal dari Istanbul. Ozlem Türeci menggambarkan dirinya sebagai 'Turki Prusia,' dan sudah lama kagum dengan budaya Jerman.

Mereka datang ke dunia kedokteran melalui rute yang berbeda: Ugur Sahin, anak seorang pekerja pabrik mobil, diperkenalkan kepadanya dari buku sains. Sedangkan ayah Ozlem Türeci adalah seorang ahli bedah dan dia kerap menyaksikan ayahnya mengoperasi pasien.

Pasangan itu bertemu saat bekerja di rumah sakit universitas di barat daya Jerman. Ugur Sahin juga pernah bekerja di rumah sakit di Cologne. Dia mendapatkan gelar MD dari University of Cologne pada 1990. Ozlem Türeci mendapatkan gelar MD dari Fakultas Kedokteran Universitas Saarland.

Duo ini kemudian mendirikan perusahaan farmasi pertama mereka pada 2001, Ganymed Pharmaceuticals, dengan dukungan dari miliarder - dan kembar identik - Thomas dan Andreas Strüngmann.

Perusahaan yang berfokus pada peran antibodi dalam mengobati kanker ini kemudian diakuisisi oleh Astellas Pharma dengan nilai sekitar US$1,4 miliar pada 2016.

Mereka menikah tahun berikutnya. Menurut Times, keduanya datang ke laboratorium saat pagi hari di pernikahan mereka pada 2002, pergi untuk melakukan upacara, dan kemudian kembali bekerja pada hari itu juga. Mereka kemudian menjadi salah satu pendiri BioNTech pada tahun 2008, dengan Ugur Sahin sebagai CEO.

Ozlem Türeci mengatakan pada 2017 bahwa ketika Sahin mengambil peran sebagai CEO BioNTech pada 2008; dia tetap menjabat sebagai CEO Ganymed. Sebelum akuisisi Ganymed, dia juga bekerja sebagai penasihat ilmiah untuk BioNTech.

BioNTech, yang mulai menggunakan imunoterapi dalam vaksin kanker, juga didukung oleh si kembar Strüngmann. Ozlem Türeci menjadi kepala petugas medisnya pada 2018.

Menurut Times, Ugur Sahin membaca artikel dari The Lancet pada bulan Januari tentang wabah di Wuhan. Dia melihat potensi bahaya dan, menurut Reuters, melihat bagaimana kerja BioNTech pada mRNA dapat diterapkan untuk vaksin.

Saat itulah perusahaan yang memiliki 500 staf mulai mengerjakan senyawa potensial untuk 'Project Lightspeed.'

Seperti yang dilaporkan Andrew Dunn dari Business Insider, BioNTech telah mengerjakan vaksin flu potensial dengan Pfizer pada 2018. Saat Ugur Sahin mulai fokus pada penelitian COVID-19, dia menelepon Kathrin Jansen, kepala penelitian vaksin Pfizer, pada Februari.

BioNTech bermitra dengan Pfizer pada bulan Maret dan memulai penelitian vaksin pada manusia pada akhir April. Bulan September, media mingguan Jerman Welt am Sonntag mencantumkan duo itu sebagai salah satu dari 100 orang Jerman terkaya - mereka berada di urutan ke-85.

Nilai perusahaan BioNTech mencapai US$25 miliar pekan lalu. Setahun yang lalu, jumlahnya sedikit di bawah US$3,4 miliar.

Ugur Sahin dikenal dengan pribadinya yang rendah hati dan kabarnya dia jarang sekali memeriksa harga saham perusahaan. Dia kerap bersepeda ke tempat kerja dan sering membawa helm dan ransel.

Hingga kini Ugur Sahin tetap mengajar di Pusat Medis Universitas Mainz; dia mulai mengajar di sana pada tahun 2014. Dan, di samping tugas BioNTech-nya, Türeci adalah presiden untuk Association for Cancer Immunotherapy.

Sementara nilai saham BioNTech melonjak, dan distribusi serta produksi vaksin meningkat, investor mengatakan kepada Times bahwa pasangan itu fokus pada kemajuan medis - bukan uangnya.

The New York Times melaporkan bahwa, setelah mendapatkan hasil ujicoba yang diinginkan, pasangan itu merayakannya dengan menyeduh teh Turki.