Sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju dinilai berkinerja buruk. Publik meminta lima menteri terburuk segera diganti.

Direktur Eksekutif Indonesian Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengungkapkan survei menunjukkan sejumlah nama selalu diminta diganti.

"Ada dua nama yang konsisten yaitu Terawan (Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto) dan Yasonna (Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly)," kata Dedi saat memaparkan hasil Kinerja Kementerian/Lembaga, Peluang Reshuffle dan Potensi Capres 2024 secara virtual, Rabu, 28 Oktober 2020.

Yasonna menempati posisi paling atas yang harus diganti Presiden Joko Widodo (Jokowi) berdasarkan hasil survei IPO pada 8-20 Juli 2020. Sedangkan Terawan menempati posisi kedua agar segera di-reshuffle.

Namun, saat ini situasi berubah. Terawan posisi teratas yang layak diganti berdasarkan survei pada 12-23 Oktober 2020. Sedangkan, Yasonna menempati posisi ketiga.

Nama paling mengejutkan dari hasil survei terhadap 1.200 masyarakat dan 170 pemuka pendapat itu ialah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Platte. Padahal, sebelumnya posisi suksesor Rudiantara itu aman berdasarkan hasil survei IPO pada Juli 2020.

"Juli itu beliau tidak masuk ring teratas agar di-reshuffle sebelumnya. Tapi tiba-tiba langsung menjadi teratas," sebut dia.

Nama lain yang cukup menjadi perhatian yaitu Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Dedi menyebut dorongan agar mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu diganti karena sejumlah hal.

"Bisa saja dipengaruhi kebijakan beliau terkait covid-19 atau food estate yang dialihkan ke Prabowo (Menteri Pertahanan), hingga nama beliau menjadi perbincangan publik," ujar dia.

Terakhir, lima besar pembantu presiden yang layak diganti yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Publik selalu meminta mantan pemilik Gojek itu diganti.

"Ini (Nadiem) stabil, artinya sejak awal beliau memang berada di posisi di-reshuffle," ujar dia.

Survei Kinerja Kementerian/Lembaga, Peluang Reshuffle dan Potensi Capres 2024 dilakukan pada 12-23 Oktober 2020. Metode penelitian menerapkan survei purposive dan multistage random. Margin of error survei 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Metode multistage sampling diterapkan terhadap 1.200 responden. Sedangkan purposive sampling dilakukan terhadap 170 orang pemuka pendapat.