Menteri Koordinasi dan Perekonomian,  Airlangga Hartarto meluruskan berita soal pembelian vaksin virus Corona AstraZeneca.

Airlangga mengatakan, kabar soal Indonesia batal membeli vaksin dari perusahaan farmasi asal Inggris itu tak sepenuhnya benar.

Pemerintah, kata Airlangga dalam jumpa pers daring di Jakarta, Selasa, belum memutuskan untuk membeli vaksin COVID-19 dari AstraZeneca. "Berita tersebut (pembatalan pembelian vaksin AstraZeneca) tidak sepenuhnya benar karena belum diputuskan dan AstraZeneca itu menjadi salah satu kandidat," katanya.

Menurut dia, pemerintah tetap mengkaji produsen vaksin COVID-19 di antaranya AstraZeneca, Sinovac dan prosuden lainnya.

Airlangga yang juga Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) ini menyebut AstraZeneca menjadi salah satu kandidat karena harganya mendekati harga publik.

Perusahaan tersebut, kata dia, juga menyakinkan bisa menyediakan vaksin dalam volume yang besar.

Namun, lanjut dia, ketersediaan vaksin dari perusahaan yang bermarkas di Inggris itu tidak dalam waktu dekat dan baru bisa masuk diperkirakan pada kuartal kedua tahun 2021.

"Oleh karena itu arah presiden terhadap vaksin seperti AstraZeneca, Sinovac dan lainnya itu tetap dikaji dan tentunya nanti dilihat sesuai kebutuhan yang ada di Indonesia dan juga kerja samanya ke depan," katanya.

Pemerintah, lanjut dia, juga mencermati perkembangan vaksin Merah Putih untuk ke depan diproduksi di dalam negeri.

Meski begitu, lanjut dia, pemerintah menyasar kerja sama dengan sejumlah produsen vaksin COVID-19 itu seperti dari Sinovac yang akan diproduksi BUMN dalam negeri Bio Farma karena kapasitas produksi di Indonesia juga cukup luas.