Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia masih tertinggal soal produk halal. Indonesia belum berperan maksimal sebagai kiblat produk halal. Terutama, dalam ekspor produk makanan, kosmetik, dan obat-obatan halal.

Kondisi ini terlihat pada pangsa pasar ekspor ketiga produk tersebut ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI. Walau neraca perdagangan dengan negara-negara OKI sudah positif, kata Agus, tapi nilainya masih jauh di bawah negara-negara nonmuslim.

"Seperti Brasil, Prancis, Amerika Serikat, dan Jerman," kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, 24 Oktober 2020.

Situasi ini sebenarnya bukan terjadi sekarang saja. Tahun lalu, Kemendag mencatat pengekspor komoditas halal masih didominasi negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.

"Sebenarnya pangsa pasarnya besar banget, Tetapi negara kita belum banyak (produk halal), jika dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia," kata Kepala Sub Direktorat Eropa, Kemendag, Dina Kurniasari pada 18 September 2019.

Walaupun bukan negara muslim, kata dia, Thailand bisa menyediakan produk halal yang bisa menyuplai permintaan dunia. "Pilihan produk halalnya jauh lebih banyak dengan Indonesia," kata Dina.

Dengan situasi ini, Kemendag dikutip Tempo kini sedang berusaha agar sertifikat halal yang diterbitkan di Indonesia bisa diterima di seluruh negara tujuan ekspor. Sehingga, produk Indonesia dapat masuk secara leluasa ke pasar ekspor suatu negara tanpa terkendala hambatan tarif maupun nontarif.

Saat ini, kata Agus, Kemendag sudah menyelesaikan 20 negosiasi perdagangan. Lalu ada juga 13 negosiasi yang masih berjalan, serta 17 negosiasi perdagangan yang masih dalam tahap penjajakan.

Di antara berbagai negosiasi tersebut, banyak sekali yang melibatkan negara anggota OKI. "Sejauh ini, mereka yang telah memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia yaitu Pakistan, Mozambik, Palestina, Malaysia, dan Brunei Darussalam,” kata Agus.