Kalangan analis yang menjadi acuan para pemilik modal, terus memperhatikan pergerakan emiten yang terdampak positif dari kehadiran Omnibus Law UU Cipta Kerja. Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, sektor pertambangan dan properti akan menarik di 2021.  

Alasan dia, likuiditas global bakal menaik tajam seiring keputusan bank sentral AS (The Fed) mencetak dana sebesar US$2 triliun untuk membantu perekonomian AS keluar dari resesi sebagai dampak pandemi COVID-19.

Ditambah lagi, stimulus fiskal yang kuat dari AS dan Eropa membuat hampir seluruh dunia berada di posisi mendorong ekonominya keluar dari jurang resesi akibat pandemi. Ya termasuk Indonesia yang telah menggelontorkan Rp600 triliun lebih. "Ini akan mendorong komoditas di 2021 akan cenderung lebih positif pergerakannya," kata Hans dalam Seminar Analis Pasar Modal "Outlook Investasi 2021, Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Pendorong sentimen komoditas akan positif yaitu isu global mengarah kepada green energy atau energi hijau. Sehingga seperti mobil listrik akan menjadi salah satu menjadi kendaraan masa depan.

Oleh karena itu pembentukan holding Indonesia baterai akan menjadi sesuai prospek menjanjikan. Beberapa emiten yang memiliki produksi nikel dan timah akan terdorong positif, seperti emiten Vale Indonesia Tbk (INCO), Aneka Tambang Tbk (ANTM), Timah Tbk (TINS), Bukit Asam Tbk (PTBA), Adaro Tbk (ADRO), Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Indonesia sendiri termasuk negara dengan produksi nikel terbesar setelah Tiongkok. Berbeda dengan Tiongkok yang nikel untuk konsumsi dalam negeri, nikel Indonesia banyak diekspor. Bila Indonesia membatasi ekspor nikel, maka harga nikel dunia bisa bergerak naik. "Sehingga kita lihat pemerintah sebenarnya bisa mengontrol nikel dan timah," kata Hans.

Riset Goldmans Sachs terbaru juga menunjukkan komoditas di 2021 akan bergerak naik. Sehingga harga komoditas lain seperti minyak, batubara juga akan terkerek naik.

Selain itu prospek potensi di 2021 juga menyasar kepada sektor properti. Pertumbuhan properti booming hanya sampai 2013. Setelah itu grafiknya menurun, seiring dengan berakhirnya grand supercyle komoditas di 2012. "Siklus properti akan naik kembali dengan titik atasnya di 2023. Jadi sebenarnya sekarang adalah periode properti yang cukup low, dan menjadi pilihan yang cukup baik," kata Hans.

Alasan lainnya berkaca pada Tiongkok, dimana penjualan properti kembali naik pasca pandemi. Selain itu trend bunga pinjaman juga turun, sehingga trend properti akan naik. "Rata-rata saham properti diperdagangkan dengan Net Asset Value (NAV) yang telah terdiskon sangat jauh, 50-70%. Jadi ini periode yang murah bagi sektor saham properti. Tiga pilihannya ada pada Bumi Serpong Damai (BSDE), Summarecon Agung (SMRA), Ciputra Development (CTRA) dan Pakuwon Jati PWON," kata Hans.

Sektor keuangan juga menjadi andalan pasar modal Indonesia karena pada nanti awal siklus kenaikan pasar, sektor ini selalu membaik. "Pasar saham kita belum naik berlebih, masih ada potensi upside (potensi peningkatan nilai). Dengan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 5.300, seharusnya saham-saham perbankan masih bisa memaintain untuk kenaikan beberapa poin ke depan," tandas Hans.