Usulan pajak mobil baru 0 persen atau pemangkasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dari Kementerian Perindustrian dinilai tidak efektif untuk mendorong penjualan kendaraan bermotor. Sebab, masalah utama dari turunnya penjualan saat ini ada di faktor permintaan.

"Jadi dalam kondisi seperti ini, orang kan tidak akan spending untuk kebutuhan tersier," kata Research Manager Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar saat dihubungi di Jakarta, Senin, (21/9/2020).

Masyarakat pada saat pandemi Corona, katanya, lebih memilih untuk menggunakan dana yang ada untuk kebutuhan berjaga-jaga. Sehingga, kalaupun harga turun sekian persen akibat relaksasi pajak ini, belum tentu konsumen akan membeli kendaraan.

Fajry juga mengatakan segmen penjualan yang terdampak saat ini adalah mobil kelas LCGC dan Small MPV. "Ini pasar kelas menengah yang kita ketahui, dalam kesulitan cash flow. Jadi harga diturunkan sekian pun mereka gak beli," katanya seperti dikutip Tempo.co.

Usulan ini sebelumnya diumumkan Kemenperin pada 14 September 2020, dan sudah disampaikan ke Kementerian Keuangan. Relaksasi pajak diusulkan sampai Desember 2020 untuk membantu daya beli masyarakat pertumbuhan industri manufaktur di bidang otomotif.

Saat ini, ada beberapa jenis pajak. Ada yang sekali saat pembelian, yaitu Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Ada juga yang ke daerah dan setiap tahun seperti Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo mengusulkan relaksasi tak hanya bagi PKB, tapi juga PPnBM, PPN, sampai Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN KB).

Untuk PKB, Fajry menyebut kewenangannya ada di pemerintah daerah, bukan di pusat. Karena dibayarkan setiap tahun, maka PKB tidak ada kaitannya dengan penjualan kendaraan bermotor.

Tapi untuk PPnBM, Fajry setuju jika nomenklaturnya diubah menjadi cukai. Sehingga, beban pajaknya bergantung dari besaran emisi gas buang yang dihasilkan. Semakin berpolusi, maka beban cukainya semakin besar.

Di sisi lain, Ketua Umum Gaikindo Jongkie Sugiarto membeberkan sudah ada kenaikan penjualan pada Agustus 2020. Penjualan wholesales yaitu 37.291 unit atau tumbuh 47,5 persen (month-to-month/mtm) dan retail sales mencapai 37.655 unit atau tumbuh 5,2 persen mtm.

Tapi secara akumulatif tahunan masih terkontraksi. Sepanjang Januari hingga Agustus 2020, penjualan wholesales mencapai 323.507 atau minus 51,3 persen yoy. Retail sales mencapai 364.034 atau minus 46,4 persen yoy.