Saat ini, kata Bang Sandi, sapaan akrabnya, banyak small medium enterprise (SME) dan startup di Indonesia mengaplikasikan survival mode agar usahanya bisa selamat dari dampak pandemi COVID-19. Namun, kata Dewan Pembina Partai Gerindra ini, patut disayangkan model bisnis survival mode tidak akan bertahan lama. Lantaran, tidak seorang pun tahu kapan krisis ini akan berlalu. Bahkan, apa yang kita sebut normal di masa pra-pandemi harus mengalami pendefinisian ulang.

Selanjutnya, pria berjuluk Papa Online ini berbagi saran untuk SME dan start-up agar bisa tetap menjadi champion di era New Normal. "Pebisnis harus reinvent pengetahuan bisnis mereka untuk memunculkan model bisnis yang baru," tegasnya.

Layaknya pertandingan basket, kata dia, kalau jalan di kanan akan ditutup, maka harus pintar pivot ke kiri. Bahwa, SME dan start-up mau tidak mau harus mengedepankan aspek kesehatan dan digitalisasi dalam setiap tahapan bisnisnya. "Mulai dari pemesanan, pembayaran, produksi, hingga penyediaan barang. Dan, zaman sekarang data dan tren bisnis bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita tinggal mengamati, meniru, dan memodifikasi tren yang ada sehingga kita memiliki model bisnis baru,” tegasnya.

Jika dilihat dari aspek dukungan kebijakan pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi nasional khususnya UMKM, kata Sandi, nampaknya masih jauh dari harapan. Tim ekonomi pemerintah gagal membangun rumusan kebijakan stimulus fiskal untuk menyelamatkan UMKM. "Faktanya daya beli terus menurun, semoga Banpres (Bantuan Presiden) bisa menolong ultra mikro," tegas Sandi.

Bisnis yang saat ini dibutuhkan masyarakat, menurutnya, adalah di bidang kesehatan, teleconferencing, course terbuka, biotech, legal, dan clear energy. Ada empat kekuatan yang bisa digaungkan dalam duia enterprenersip yaitu, pencapaian atau target, stimulasi, arah atau tujuan, dan keamanan bisnisnya. "Bila ini semua bisa digapai maka apapun usahanya pasti akan sangat maju,” tutupnya.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Kamrussamad mengatakan, era digitalisasi saat ini, mendorong pengusaha muda untuk bisa beradaptasi cepat. Buka kemitraan dengan elemen atau komunitas seperti asosiasi industri kreatif. "Kemitraan dengan komunitas berbasis industri kreatif ini menjadi penting terutama agar produk wirausaha bisa ikut terpasarkan dengan baik," katanya.

Kamrussamad mengaku, tantangan bisnis saat ini, jauh lebih tinggi ketimbang biasanya. Sebagai pebisnis, dituntut pemikiran yang out of the box. Manfaatkan teknologi online agar bisnis tetap berjalan dan tak berujung merugi. Optimalkan setiap sumber daya yang ada, serta gunakan software yang bisa mendukung kelancaran bisnis selama pandemi Covid-19. “Intinya adalah kita terus mau belajar, research dan mampu melihat trend serta meraba trend yang akan datang,” tukasnya.