Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan tinggnya ketidakpastian akibat pandemi COVID-19 masih tinggi. Karenanya, pemulihan ekonomi masih akan rentan.

Sejumlah indikator ekonomi belakangan ini yang terlihat seperti membaik, menurut dia, harus disikapi dengan baik.

"Tapi ini masih sangat dini dan cukup rentan bagi kita untuk melihat pemulihan di masa mendatang," ujar Sri Mulyani dikutip akhir pekan lalu.

Sebagai contoh, PMI manufaktur pada Agustus 2020 telah mencapai ke level 50,8. Selain itu ada data google mobility index yang juga mendukung pemulihan di berbagai sektor, di antaranya transportasi, logistik, termasuk beberapa sektor keuangan.

Begitu juga dengan banyaknya harapan produksi vaksin Covid-19. Sri Mulyani menyebutkan pemulihan ekonomi membutuhkan waktu yang lebih lama bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Sri Mulyani menyebutkan Indonesia pun menghadapi ketidakpastian yang sama walaupun kontraksi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 sebesar minus 5,32 persen tidak sedalam perlambatan ekonomi negara-negara lain.

Sebelumnya, Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia di kuartal III tahun ini bakal terkontraksi lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Hal tersebut sejalan dengan penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta.

Pemerintah kini terus memantau perkembangan data yang berhubungan dengan pergerakan seiring dengan pemberlakuan PSBB jilid II di DKI Jakarta mulai tanggal 14 September 2020. Dari hitungannya, ekonomi di kuartal III tahun berpotensi akan berada pada kisaran 0,0 persen hingga -2,1 persen.

Oleh karena itu, menurut Sri Mulyani, pemerintah akan terus menjaga agar perekonomian tidak turun terlalu dalam. Program pemulihan ekonomi nasional (PEN) akan terus didorong dan diharapkan bisa mendorong perekonomian lebih ke arah positif.