Pada dasarnya, waktu terjadinya serangan jantung tidak pandang bulu. Artinya, serangan jantung bisa terjadi sewaktu-waktu, baik saat Anda sedang dalam keadaan bangun maupun saat sedang tidur. 

Kondisi ini memang bisa terjadi kapan saja, tapi para ahli menyatakan bahwa kondisi ini lebih sering terjadi di pagi hari. Salah satu alasan yang meningkatkan kemungkinan risiko serangan jantung terjadi di pagi hari adalah jam biologis tubuh.

Jam biologis tubuh memang dapat memengaruhi kondisi kesehatan jantung. Setiap orang memiliki jam biologis tubuh, yaitu pemahaman bagi sel-sel di dalam tubuh terhadap aktivitas yang Anda lakukan sehari-hari. Sel-sel di dalam tubuh akan menggunakan pemahaman tersebut untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi pada tubuh selanjutnya.

Sebagai contoh, di pagi hari, tubuh Anda secara otomatis akan mempersiapkan semua organ untuk kembali bekerja dengan normal. Sedangkan sebelumnya organ-organ tubuh bekerja dengan lambat, karena di malam hari Anda beristirahat.

Ibaratnya, setiap pagi tubuh Anda akan melakukan “pemanasan” pada setiap organnya, termasuk jantung dan pembuluh darah. Permintaan darah dan makanan meningkat di dalam tubuh, sehingga jantung harus memompa darah lebih cepat.

Selain itu, pembuluh darah cenderung menyempit di pagi hari. Hal ini yang membuat jantung Anda semakin bekerja keras. Jika saat itu ada penyumbatan di salah satu pembuluh darah, maka serangan jantung tidak bisa dihindari. Ketika itu, Anda akan mengalami berbagai gejala serangan jantung.

Serangan jantung adalah kondisi yang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa faktor tertentu yang dapat meningkatkan potensi risiko pengembangan sel penyebab dari salah satu jenis penyakit jantung ini di dalam tubuh. Berikut adalah beberapa faktor risiko yang perlu Anda perhatikan: 

Pria berusia 45 tahun ke atas dan wanita berusia 55 tahun ke atas lebih berisiko terkena kondisi ini dibandingkan usia yang lebih muda.

Kebiasaan merokok.

Tekanan darah tinggi.

Kadar kolesterol atau trigliserida yang tinggi.

Faktor keturunan atau riwayat kesehatan keluarga. 

Kurang beraktivitas.

Obesitas.

Stres berat.