Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok kembali membuat polemik. Menurutnya, PT Percetakan Uang Republik Indonesia (Persero) atau Perum Peruri meminta uang Rp 500 miliar ke perseroan.

Ahok bercerita, permintaan BUMN percetakan uang itu terkait proses paperless yang tengah dibangun Pertamina. Salah satunya proses tanda tangan tidak perlu lagi dilakukan secara fisik, tapi migrasi ke digital.

"Sekarang saya lagi paksakan tanda tangan digital, tapi Peruri masa minta Rp 500 miliar untuk proses paperless di kantor Pertamina. Itu BUMN juga, sama aja udah dapat Pertamina enggak mau kerja lagi setahun? Mau jadi ular sanca, ular piton?," kata dia dalam video yang diunggah akun POIN di YouTube dikutip kumparan, Selasa (15/9).

Dikonfirmasi maksud ucapannya dalam video tersebut, Ahok hanya menjawab singkat. "Dengar sendiri saja," kata dia kepada kumparan.

Sementara Direktur Utama Perum Peruri Dwina Septiani Widjaja tidak membalas konfirmasi kumparan. Begitu pun Sekretaris Perusahaan Peruri Adi Sunardi.

Bagaimana respons Kementerian BUMN? Juru Bicara Kementerian BUMN Arya Sinulingga berpendapat, kerja sama yang dilakukan Peruri dan Pertamina dilakukan secara bisnis. Jadi, seharusnya Peruri sudah menawarkan harga terbaik ke Pertamina.

"Mengenai Peruri itu business to business, silakan ditawar saja yang terbaik buat Pertamina. Peruri juga pasti sudah menghitung biaya yang terbaik, yang mereka tawarkan ke Pertamina," ujar Arya kepada kumparan.

Berdasarkan catatan kumparan, belum lama ini Pertamina dan Peruri mengadakan kerja sama. Dalam rilis resmi Pertamina yang diterima kumparan pada 10 Agustus 2020, perseroan menggandeng Peruri untuk pemanfaatan sertifikat elektronik, solusi digital, kode security hingga tanda tangan elektronik untuk meningkatkan keamanan transaksi elektronik dan layanan keamanan digital lainnya.

Komitmen ini tertuang dalam MoU antara PT Pertamina (Persero) dengan Perum Peruri yang ditandatangani langsung oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati dan Direktur Utama Perum Peruri, Dwina Septiani, di Jakarta, Senin (10/8).

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, untuk menjalankan aktivitas perusahaan yang lebih baik, perlu transformasi organisasi dengan tata kelola yang baik (Good Corporate Governance), termasuk insan Pertamina yang menjalankannya.

“Faktor utama keberhasilan transformasi adalah integritas dari seluruh pekerja,” tegas Nicke.

Ruang lingkup nota kesepahaman meliputi pemanfaatan produk dan layanan Peruri Code, Peruri Sign, dan Peruri Trust.

Peruri Code merupakan kode unik yang diproduksi sistem Peruri pada label sekuriti dokumen dan atau media lainnya untuk menyimpan informasi publik dan privat di dalamnya. Peruri Code memiliki peranan penting untuk penjaminan keaslian (authentication), kontrol distribusi (supply chain), dan penjaga brand image.

Peruri Sign merupakan platform yang dimiliki Peruri untuk menjamin kerahasiaan data (confidentiality), melindungi integritas isi dokumen (data integrity), menjamin keaslian data (authentication) dan jaminan nirsangkal (non-repudiation) dari suatu dokumen elektronik sehingga dapat diketahui keabsahan dan keasliannya.

Peruri Trust merupakan platform digital Peruri yang memanfaatkan produk Peruri Code dan atau Peruri Sign untuk dapat melakukan fungsi pengawasan atau end-to-end real time monitoring.

Penandatanganan MoU antara Pertamina dengan Perum Peruri sejalan dengan program restrukturisasi Pertamina untuk melakukan transformasi berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada stakeholder, terutama masyarakat, dalam penyediaan energi nasional.