Sejak Shinzo Abe menyatakan mundur akhir Agustus 2020 lalu, kursi Perdana Menteri belum juga terisi. Berbagai spekulasi dan desas desus berkembang tentang siapa tokoh yang akan menggantikan posisi Shinzo Abe. Mantan Menteri Pertahanan Jepang Shigeru Ishiba disebut sebagai salah satu calon kuat.

Berdasarkan jajak pendapat yang diadakan Kantor Berita Jepang, Kyodo, Minggu (30/8/2020), Shigeru Ishiba mendapat 34 persen dukungan masyarakat. Dia mendulang suara dua kali lipat dibanding Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga yang hanya mendapatkan 14 persen.

Hasil survei ini memperketat perebutan kursi untuk menggantikan Abe. Sementara jajak pendapat Nikkei/TV Tokyo menunjukkan, Ishiba mendapatkan 28 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding Menteri Pertahanan saat ini, Taro Kono, yang mengantongi 15 persen, sementara Suga berada di urutan keempat dengan angka 11 persen.

Jajak pendapat yang dirilis Senin (31/8/2020) itu, menunjukan perbedaan antara opini masyarakat dan perpolitikan partai berkuasa, Liberal Democratic Party (LDP). Namun media Jepang tetap memprediksi, Suga yang sudah lama menjadi tokoh dalam pemerintahan Abe akan menjadi perdana menteri yang baru.

Sebab, kabarnya Sekretaris Jenderal LDP Toshihiro Nikai dan empat faksi lainnya mendukungnya. Dengan demikian, Suga menjadi orang yang berpotensi menggantikan Abe yang mengumumkan pengunduran dirinya pekan lalu.

Namun, perebutan kursi perdana menteri akan menjadi medan pertempuran yang cukup berat bagi Ishiba. Mantan menteri itu merupakan salah satu kritikus Abe yang paling vokal. Ia sempat berusaha mengalahkan Abe dalam pemilihan ketua partai LDP pada 2018.

Nama lainnya, Kepala Kebijakan LDP Fumio Kishida juga menjadi kandidat favorit. Ia berada di peringkat kedua dalam dua jajak pendapat media tersebut.

Pada akhirnya, Yoshihide Suga (71 tahun) menang telak dalam pemilihan pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), Senin (14/09/2020) waktu setempat. Ia berpeluang besar menggantikan posisi Shinzo Abe.

Putra seorang petani stroberi dari Jepang Utara itu memulai karier politiknya sebagai anggota dewan lokal. Kemudian, sejak 2012 menjabat sebagai kepala sekretaris kabinet.

Yoshihide Suga bertindak sebagai juru bicara utama pemerintah Abe dengan mengordinasikan kebijakan, dan menjaga birokrat tetap sejalan. Sepekan terakhir dia memulai kampanyenya untuk menjadi pemimpin Jepang menggantikan Abe yang mundur karena alasan kesehatan.

Sebagai kepala sekretaris kabinet selama hampir delapan tahun, Suga telah bertindak sebagai orang kedua secara de facto dalam pemerintahan Jepang.

Yoshihide Suga muncul sebagai favorit yang jelas untuk menggantikan Abe sejak mendapatkan dukungan dari faksi-faksi utama LDP. Prediksi pengamat tentang kemenangan Suga telah terlihat jelas atas para pesaingnya Fumio Kishida mantan menteri luar negeri, dan Shigeru Ishiba, seorang mantan menteri pertahanan.

Yoshihide Suga juga mendapat dukungan kuat dari cabang LDP lokal. Menurut penghitungan oleh NHK, ia mengambil 89 suara dari perwakilan lokal versus 42 untuk Ishiba dan 10 untuk Kishida.

Yoshihide Suga secara luas dipandang sebagai kandidat pelanjut Abe. Kebijakan ekonomi pendahulunya merupakan kombinasi dari pengeluaran pemerintah yang besar, kebijakan moneter yang sangat mudah, dan reformasi struktural yang akan tetap tidak tersentuh, menurutnya.

"Satu-satunya alasan Suga mendapatkan jabatan perdana menteri adalah karena dia bersumpah untuk melanjutkan kebijakan Abe, jadi untuk perdana menteri baru dia sangat dibatasi oleh catatan dan warisan pemerintahan sebelumnya," kata Koichi Nakano, seorang profesor ilmu politik di Universitas Sophia di Tokyo dikutip laman Guardian, Senin (14/09/2020).

Mengenai kebijakan luar negeri, Yoshihide Suga akan terus memprioritaskan hubungan keamanan Jepang dengan Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi China dan Korea Utara. Meskipun dia mengakui tidak memiliki "keterampilan diplomatik" seperti Abe yang mampu menjalin hubungan pribadi erat dengan Donald Trump.

Terlepas dari hubungan politiknya yang erat dengan Abe, latar belakang Suga sangat berbeda. Sebagai putra seorang menteri luar negeri dan cucu perdana menteri, Abe menonjol bahkan di parlemen yang dipenuhi politisi keturunan.

Politikus Mandiri yang Pendiam

Yoshihide Suga yang Siap Menggantikan Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang - Foto: Reuters/Hoon

Namun Yoshihide Suga adalah seorang politisi mandiri, putra tertua dari seorang petani stroberi dan guru di Yuzawa, sebuah kota di pedesaan prefektur Akita. Ia tidak memiliki silsilah politik, namun sekarang berada di titik puncak memimpin negara ekonomi terbesar ketiga di dunia.

"Dia sangat pendiam," ujar Hiroshi Kawai, mantan teman sekelas SMA Suga. "Dia adalah seseorang yang tidak akan Anda perhatikan jika dia ada di sana atau tidak," katanya menambahkan.

Setelah lulus dari sekolah menengah di Yuzawa, Yoshihide Suga pergi ke Tokyo. Dia lantas bekerja paruh waktu, termasuk bekerja di pabrik karton dan pasar ikan Tsukiji untuk membayar biaya kuliahnya.

Yoshihide Suga lantas bekerja dan menerima gaji bulanan. Namun, hasrat politik yang kuat membuatnya memutuskan meninggalkan pekerjaan rutin itu.

Pertaruhan politik pertamanya adalah ketika Yoshihide Suga bersaing memperebutkan posisi menjadi anggota Dewan Kota Yokohama. Karena tidak punya kenalan politikus dan minim pengalaman, dia harus bekerja keras meraih simpati dan memperkenalkan diri.

Saat itu dia berkampanye mengunjungi setiap rumah penduduk. Dalam sehari dia menyambangi 300 rumah warga, dan di akhir kampanye dia tercatat mengunjungi 30 ribu rumah penduduk. Bahkan karena terlalu seringnya berjalan kaki berkunjung ke rumah penduduk, Suga sampai menghabiskan enam pasang sepatu selama masa kampanye.

Alhasil, kerja kerasnya di masa lalu kini berbuah manis. Suga dinilai menjadi salah satu sosok politikus Jepang yang tangguh. Menurut seorang pakar Jepang di Teneo Intelligence di Washington dan penulis buku baru tentang Abe, Tobias Harris, status Suga sebagai orang luar yang relatif dapat membantunya dengan baik saat dia berusaha untuk menjauhkan Jepang dari resesi berkepanjangan yang diperburuk oleh pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

"Jika Suga bertahan, itu sebagian karena dia bukan politisi keturunan," kata Harris.

Nasib politik Suga juga terkait erat dengan Abe sejak dia memenangkan kursi majelis rendah pada 1996. Banyak yang menyebut dia sebagai sosok yang memiliki pengaruh utama dalam keputusan Abe untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri untuk kedua kalinya.

Meskipun Suga menghabiskan waktu berjam-jam untuk memberi pengarahan, dan kadang-kadang bentrok dengan jurnalis politik, penyampaiannya yang tanpa ekspresi menawarkan sedikit wawasan tentang orang di balik persona publik.