Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik 20 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/09/2020).

Dari ke-20 yang dilantik mencuat nama Muhammad Lutfi. Jokowi menempatkan Muhammad Lutfi sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, berkedudukan di Washington DC.

Ia mengisi pos yang ditinggalkan Mahendra Siregar, diangkat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada Oktober 2019, mendampingi Menlu Retno Marsudi.

Jabatan baru sebagai Dubes RI di AS membuka peluang Muhammad Lutfi untuk kembali bersinar dalam karirnya di pemerintahan. Punya track record sebagai Dubes RI untuk Jepang sejak 2010 hingga 2013, jadi modal kuat untuk menjalankan misi diplomasi Indonesia di AS.

Pria kelahiran Jakarta 16 Agustus 1969 ini juga paham soal investasi mengingat latar belakanganya sebagai mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2005 -2009,

Di Negeri Paman Sam, setidaknya ada dua prioritas tugas untuk Muhammad Lutfi. Pertama, Lutfi harus memastikan bahwa AS memperpanjang persetujuan fasilitas pembebasan tarif bea masuk (generalized system of preference/GSP) ke Indonesia.

Kedua, Lutfi menjadi kunci untuk pembicaraan soal negosiasi perjanjian perdagangan bebas terbatas atau limited trade deal dengan AS.

“Saya akan mendorong dan memastikan bahwa persetujuan GSP diperpanjang. Lalu, memulai pembicaraan negosiasi daripada limited trade deal, yaitu barang-barang di AS yang pajaknya kurang dari 5 persen bisa di nol persenkan tanpa melalui kongres. Kita memulai negosiasi itu segera, itu prioritas,” ujar Lutfi dalam keterangan resminya, diterima Senin (14/9/2020) .

Indonesia berada di urutan ketiga negara yang banyak memanfaatkan fasilitas GSP AS. Tercatat sekitar 14,9 persen ekspor Indonesia ke AS memanfaatkan fasilitas tersebut.

Saat ini, Indonesia tengah menunggu hasil kajian pemerintah AS melalui United States Representiative (USTR) terkait pemberian fasilitas GSP.

Dalam keterangan resminya, Lutfi memastikan diplomasi ekonomi dengan AS akan diperkuat ke depannya.

Seiring era baru perdagangan internasional, Lutfi menyadari bahwa untuk bisa menjual barang atau produk ke pasar AS, maka Indonesia juga mesti membeli produk AS.

“Saya juga ingin memastikan produk-produk AS bisa berkompetisi di pasar Indonesia. Karena pasar kita besar dan prospektif, saya akan memastikan bahwa AS mengetahui bahwa Indonesia selalu memperbaiki iklim investasi,” ungkap Lutfi.

Investor AS hingga saat ini tetap memperlihatkan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya, Kimberly-Clark Corporation. Perusahaan yang bermarkas di Texas, AS. itu mengumumkan akan mengakuisisi Softex Indonesia.

Adapun, nilai transaksi tunai sebesar US$1,2 miliar yang berasal dari sekelompok pemegang saham termasuk CVC Capital Partners Asia Pacific IV.

“Pada akhir era-70an mereka salah satu perusahaan pertama yang investasi besar di Indonesia. Sekarang mereka sudah mulai lagi. Dengan modalitas baru, dengan membuka pasar kita ternyata banyak investasi masuk," ujar alumnus Purdue University, Amerika Serikat, peraih penghargaan sebagai Pemimpin Muda Berpengaruh dari The World Economic’s Forum’s Young Global Leaders 2008 ini.

Lutfi berharap mereka membuka pasar baru sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi.

Sebagai catatan, selain pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Jepang di era SBY, Lutfi juga dipercaya SBY mengisi kursi Menteri Perdagangan menggantikan Gita Wirjawan. Namun, Lutfi hanya menjabat Mendag selama 9 bulan seiring berakhirnya jabatan SBY - Boediono pada Oktober 2014.

Lutfi terlihat menonjol sejak muda. Pada usia 29 tahun, ia menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya periode 1998-2001.

Ia kemudian terpilih menjadi Ketua Nasional HIPMI pada periode 2001-2004. Bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir, Lutfi juga ikut membentuk Mahaka Group.

Sempat meredup namanya di era awal kepemimpinan Joko Widodo - Jusuf Kalla, nama Lutfi kembali mencuat pada masa Pemilihan Presiden 2019. Saat itu, ia menyatakan dukungan pada Jokowi, yang maju berpasangan dengan Ma'ruf Amin. Ia bahkan bergabung bersama Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf.