Penolakan Budi Hartono yang merupakan orang terkaya di Indonesia, terhadap aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid II di DKI Jakarta, tidak main-main. Dia menyurati Presiden RI Joko Widodo pada 11 September 2020.

Dalam suratnya, Budi menilai, pemberlakuan PSBB oleh Gubernur Anies bukan langkah yang tepat. Selanjutnya dibeberkan sejumlah solusi yang bisa dilakukan pemerintah, khususnya Gubernur Anies ketimbang memberlakukan PSBB.

Salah satu cara yang disarankan adalah penegakan aturan dan pemberian sanksi atas ketidakdisiplinan sebagian kecil warga. Tugas untuk memberikan sanksi atau hukuman tersebut menjadi wewenang Kepala Daerah, dalam hal ini Gubernur DKI Jakarta. "Jadi jangan karena membesarnya jumlah kasus terinfeksi Covid-19, kemudian Gubernur mengambil satu keputusan jalan pintas yang tidak menyelesaikan permasalahan sebenarnya," tulis Budi dalam suratnya yang diekspos dalam Instagram Mantan Duta Besar Polandia, Peter F Gontha, @petergontha, Minggu (13/9/2020).

Saran selanjutnya, Budi yang kelahiran 28 April 1940 itu menyampaikan, pemerintah pusat maupun daerah harus meningkatkan kapasitas isolasi masyarakat, sehingga tidak melebihi kapasitas maksimum ICU di Jakarta. Kapasitas isolasi ini bisa mencontoh kontainer isolasi yang dibangun di Port Singapore. Indonesia bisa membangun kontainer isolasi ber-AC di tanah kosong.

Kemudian, pemerintah perlu melaksanakan testing, isolasi, tracing (pelacakan), dan treatment. Sebab sejauh ini masih banyak kekurangan dam hal isolasi dan contact tracing. Lalu, perekonomian tetap harus dijaga, sehingga aktifitas masyarakat yang menjadi motor perekonomian yang dapat terus menjaga kesinambungan kehidupan bermasyarakat kita hingga pandemi berakhir. "Masyarakat lebih takut kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta kelaparan daripada ancaman penularan Covid-19. Beberapa lembaga survei menunjukkan hasil riset seperti itu," pungkas Budi.

Di sisi lain, mantan Sekretaris BUMN Said Didu merespons sikap bos Djarum itu, dengan berhenti merokok Djarum Super. Padahal, Said adalah penikmat rokok merek Djarum Super selama 35 tahun. Melalui akun Twitter pribadinya, @msaid_didu membagikan foto bungkusan rokok Djarum Super yang bertebaran di tong sampah. “PENGUMUMAN: Demi duka cita saya para korban Covid-19, atas protes pemilik Jarum terhadap kebijakan selamatkan nyawa rakyat Indonesia, setelah 35 tahun saya merokok DJARUM SUPER, saat ini saya nyatakan BERHENTI merokok DJARUM SUPER. Selamat tinggal,” kata Said Didu.