Hemat pangkal kaya! Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan kalimat ini, namun hingga sekarang selalu dijadikan kalimat motivasi bagi siapa pun yang ingin kaya secara materi. Tak hanya itu ada juga kalimat, rajin pangkal pandai yang menjadi kalimat motivasi bagi siapa saja yang ingin pintar.

Namun bagi Zhou Qunfei, dua kalimat motivasi tersebut ternyata belum cukup. Untuk menjadi seperti sekarang, Zhou Qunfei tak hanya harus hemat dan rajin saja. Dia juga harus bekerja keras, tak menyerah ketika gagal, tak putus asa ketika dirinya harus bekerja di bawah tekanan dan dengan perlakuan tak manusiawi. 

Lalu, apa yang kini didapatkan oleh Zhou Qunfei. Bukan hanya sekedar kekayaan berlimpah, tetapi juga bisa bermanfaat bagi puluhan ribu pekerjanya dan tentu saja keluarga yang dihidupi para pekerja tersebut.

Zhou Qunfei dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin di Hunan, sebuah provinsi terpencil di mana penghasilannya kebanyakan dari sektor pertanian. Begitu miskinnya Zhou Qunfei, bontot dari tiga bersaudara ini harus ikut membantu orangtuanya menggembalakan ternak untuk mencukupi kebutuhan hidup. Meski demikian, Zhou Qunfei tetaplah menjadi siswa yang berprestasi di sekolahnya.

Ketika Zhou Qinfei berusia 5 tahun, ibunya meninggal dan ayahnya hampir buta. Sedih, sudah pasti. Namun Zhou Qinfei kecil harus terus berjuang untuk hidup di tengah rasa pasrah akan kondisi keluarganya. Hingga pada akhirnya, Zhou Qunfei terpaksa harus drop out dari sekolahnya karena tak ada biaya, walau ia sebenernya masih sangat ingin sekolah, persis saat dirinya menginjak usia 16 tahun.

Karena kondisi yang semakin tidak memungkinkan, Zhou Qunfei kemudian ikut pamannya hijrah ke provinsi Guandong. Di Guandong, Zhou Qunfei harus mengubur cita-citanya menjadi seorang desainer lalu bekerja sebagai buruh pabrik kaca dengan gaji $1 per hari. 

Ketika menjadi buruh pabrik, Zhou Qunfei sangat tertekan karena harus bekerja sepanjang hari. Itulah sebab iru, tiga bulan kemudian ia memilih berhenti. Namun ketika memberikan surat pengunduran diri, sang bos justru melarangnya keluar dengan mengiminginya jabatan lebih tinggi.

Alhasil Zhou Qunfei pun berusaha bertahann sebagai buruh pabrik, namun ia tak bisa lagi membunuh keinginannya untuk sukses. Akhirnya di tahun 1993 ia benar-benar mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Zhou Qunfei kemudian mendirikan perusahaan kaca sendiri yang diberi nama Lens Technology dengan berbekal 3000 dollar tabungannya selama bekerja sebagai buruh pabrik kaca. Perusahaan Zhou Qunfei memproduksi kaca untuk jam dengan kualitas tinggi.

Zhou Qunfei terus berinovasi terhadap produknya. Prinsipnya, dia tak ingin didahului oleh kompetitornya. Ia mau terlibat di hampir semua lini perusahaannya. Menurut kerabatnya, Zhou Qunfei itu bagaikan 'ba de man' yaitu orang yang mau melakukan apa yang dijauhi orang lain.

Di sela-sela kesibukannya mengelola perusahaan, Zhou Qunfei menikah dengan mantan bosnya. Dari pernikahannya ini Zhou dikaruniai seorang anak. Namun pernikahannya tak bertahan lama, ia kemudian bercerai. Tak berapa lama kemudian ia menikah lagi dengan teman semasa menjadi buruh dahulu. Dari pernikahan tersebut Zhou Qunfei juga dikaruniai satu orang anak pula.

Pada tahun 2003, Zhou Qunfei mendapat telepon dari perusahaan ponsel yaitu Motorolla. Perusahaan tersebut menginginkan Zhou Qunfei membuat layar untuk ponselnya. Seketika itu juga Zhou Qunfei menyanggupinya. Menurutnya, itu adalah kesempatannya untuk mengembangkan perusahaan. Saat itu layar ponsel masih memakai plasti yang membuat layar ponsel cenderung buram.

Sukses menangani Motorolla, membuat Lens Technology semakin terkenal. Akhirnya produsen ponsel yang lain berbondong-bondong memesan layar ke Lens Technology. Sebut saja HTC, Nokia bahkan Samsung dan Apple. Pada akhirnya, Zhou Qunfei pun menjadi terkenal dengan Lens Technology-nya. 

Semakin hari pemesanan semakin besar. Zhou Qunfei pun harus berinvestasi besar-besaran untuk menambah infrastruktur pabriknya. Ia juga merekrut SDM yang berkualitas. Saat ini ada 3 pabrik dan 82 ribu karyawan yang bekerja untuk Zhou Qunfei. 

Perusahaan Zhou Qunfei terus bertumbuh. Hamper 75% pasarnya datang dari Samsung dan Apple. Sebenarnya ini membuat para investor khawatir karena jika Samsung atau Apple menarik pesanannya tentu Zhou Qunfei akan kelabakan. Namun Zhou Qunfei terus meyakinkan investornya bahwa lensa produksinya terus ditingkatkan kualitasnya agar para customernya tidak beralih ke perusahaan lain.

Saat ini saham Zhou Qunfei meroket tajam. Hal ini membuat Lens Technology menjadi perusahaan blue chip di bursa saham Shenzen. Ini membuat Zhou Qunfei menjadi wanita terkaya di China.

Terkait kekayaannya yang luar biasa tersebut, pada Maret 2015, perusahaan milik Zhou Qunfei go public. Hingga saat ini, Lens Technology sudah memperkerjakan sebanyak 82.000 karyawan di seluruh China. Menurut Forbes, perusahaan tersebut bernilai hingga 11,4 miliar dolar AS, setara dengan Rp159 triliun.

Nilai itu tentu memberikan keuntungan tersendiri bagi Zhou Qunfei. Ia masuk dalam daftar Forbes sebagai 56 wanita miliarder berkat usaha sendiri dengan kekayaan sebesar 7,4 miliar dolar AS, setara dengan Rp106 triliun. Atas kekayaan yang dimiliki, Zhou Qunfei didapuk menjadi wanita terkaya di China, bahkan menjadi wanita terkaya di dunia berkat usaha sendiri pada 2017.