Ramalan itu ditandai dengan rilis pertumbuhan ekonomi yang minus 5,32 persen pada kuartal kedua lalu. "Artinya, kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama, bagi yang sudah sulit. Lebih-lebih lagi bagi yang malas dan tidak bisa dipercaya," ujarnya, dikutip dari tulisan pribadinya yang diunggah di disway.id, Jumat (7/8/2020).

Apalagi, menurut pengamatannya, pemerintah akan kian melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) demi menggerakkan roda ekonomi. Persoalannya, lanjut dia, ancaman kasus positif virus corona akan semakin banyak. "Bisa jadi jumlah penderita baru akan terus naik," jelasnya.

Masalah lain, ancaman resesi. Memang, negara lain, seperti Singapura dan Amerika Serikat (AS), sudah lebih dulu resesi. Namun, kasus itu tidak bisa disamakan dengan kondisi Indonesia, mengingat kedua negara tersebut lebih kaya. "Kita tidak bisa merasa masih beruntung hanya minus 5,3 persen. Singapura memang minus 42 persen, tapi itu tidak membuat Singapura sulit. Singapura terlalu kaya untuk dianggap sulit. Demikian juga, AS. Kita minus 5,3 persen sangat lah sulit karena posisi awal kita masih miskin," terang Dahlan.

Menurut dia, sisa empat bulan ke depan akan menjadi pertaruhan untuk Indonesia selamat dari resesi ekonomi 2020. Karenanya, ia menilai perlu segera dimanfaatkan dengan membuat terobosan untuk mempercepat pemulihan, termasuk memperkuat struktur ekonomi.

Salah satunya dengan menggenjot sektor-sektor usaha yang masih bisa tumbuh di tengah jatuhnya berbagai sektor usaha akibat pandemi covid-19. Misalnya, sektor pertanian yang masih dapat tumbuh di atas 5 persen. "Berarti sektor ini lah yang bisa diandalkan. Dengan cara biasa-biasa saja, masih tumbuh lima persen," katanya.

Kemudian, sektor pertanian, sektor perikanan, dan kehutanan juga dapat diandalkan untuk menopang perekonomian. Sektor-sektor ini dipercaya dapat membuat RI lebih kuat dalam menghadapi krisis ke depan. Ia berharap terobosan kebijakan yang muncul diarahkan untuk merombak struktur anggaran negara agar lebih mengandalkan tiga sektor tersebut.