Wahyudiarti Setiya Ningrum hanyalah orang biasa. Dia bukan menteri, bukan selebritis, bukan juga Youtuber dengan follower jutaan. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang kebetulan dipercaya menjadi pejabat di lingkungan tempat tinggalnya, sebagai Ketua Rukun Tetangga alias RT. Jabatan itu dia emban sekaligus juga dengan jabatan lain yang lebih mulia, yakni ibu rumah tangga.

Dalam satu unggahannya di Facebook (FB), Wahyudiarti Setiya Ningrum membuat narasi cukup panjang terkait imbas pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Salah satu imbas paling dia rasakan sebagai IRT adalah keharusan anak-anak sekolah melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Learning from Home (LFH) atau belajar dalam jaringan (daring/online).

Sebagai Ketua RT, Wahyudiarti Setiya Ningrum tampaknya menampung banyak keluhan dari para IRT yang mengalami kesulitan dengan kebijakan PJJ yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Tak hilang akal dan didorong keinginan untuk meringankan beban warganya, Wahyudiarti Setiya Ningrum pun punya inisiatif yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh siapapun sebelumnya.

Di narasi yang dia unggah di akun FB-nya, Wahyudiarti Setiya Ningrum menjelaskan tentang inisiatif-nya yang brilian, mudah, dan murah. "Saya kebetulan ketua RT di daerah, berinisiatif memasang Indiehome untuk akses internet anak-anal sekolah di lingkungan RT saya... Caranya seperti ini:" demikian Wahyudiarti Setiya Ningrum membuka kisahnya. 

1. Satu rumah tidak dihitung berapa jumlah anak yang sekolah. Tapi dihitung per KK wajib menabung 1000 rupiah per hari. Disimpan di toples dinding depan rumah yang diambil setiap akhir bukan oleh karang taruna. Jadi dalam 1 bulan setiap rumah mengumpulkan 30 ribu rupiah. Nah ini dikumpulkan dari 55 KK.

2. Dari 1,6 juta yang terkumpul, 600 ribu untuk membayar akses internet 50 MBPS. Sisa 1 juta dipergunakan untuk memberi kertas beberapa RIM. Beli tinta printer. Jadi kalau ada tugas yang mesti di-print, ya tinggal print saja. Nggak perlu ke warnet atau ke rental komputer. Juga untuk membayar uang transport guru-guru yang mau mengajar di kampung kami 

3. Di balai RT pun disediakan komputer hasil sumbangan orang mampu di kampung kami. Anak-anak yang tiak punya HP dipinjamkan HP dari anak Karang Taruna yang mengurusi kegiatan belajar bersama di kampung kami. Anak-anak muda lulusan SMA/SMK/D3 yang masih nganggur dan mau membimbing dikasih kerjaan membimbing adik-adiknya di kampung. Dibayar sehari 20 ribu rupiah dari uang kas RT.

Dikatakan Wahyudiarti Setiya Ningrum, itulah solusi di kampungnya terkait berbagai keluhan warganya tentang PJJ. "Cukup menabung sehari seribu rupiah per rumah. Orangtua yang kerja ya silahkan kerja. Yang usaha silahkan usaha. Di kampung ada anak-anak muda yang bekerja diberi tigas bimbing adik-adiknya yang sekolah. Mereka dibayar dua puluh ribu bagi yang mau mendidik adik-adiknya," urai Wahyudiarti Setiya Ningrum.

Hal lain yang dilakukannya adalah mengumpulkan uang untuk memberi proyektor kecil yang bertujuan untuk membuka akses Ruang Guru agar tangkapan layarnya lebih besar. "Jadi, anak-anak bisa fokus ke layar besar tanpa harus membuka HP, karena tidak semua anak punya HP," jelasnya.

Wahyudiarti Setiya Ningrum mengaku juga membuka akses bagi anak-anak dari kampung sebelah yang juga kesulitan mendapat akses internet atau yang tidak punya HP. "Itu semua dengan catatan, caranya diperiksa dulu kesehatannya dan ikut aturan di kampung kami," urainya.

Terkait tentang protokol kesehatan, Wahyudiarti Setiya Ningrum mengatakan bahwa di balai RT disediakan meja dan kursi yang suah diatur sedemikian rupa, terutama soal jarak.

"Hanya seribu rupiah per hari lho. Sangat bermanfaat. Kalian yang di kota, masa hal seperti ini kalian tidak mampu. Setelah proses belajar online selesai, WiFi dimatikan, karena ini dibuat hanya untuk akses belajar saja. Bukan dipergunakan untuk membuka Youtube atau akses main games. Tiap hari password diganti, biar tidak dipakai sembarangan oleh anak-anak yang tidak sekolah," ujar Wahyudiarti Setiya Ningrum di dalam narasinya. 

Sayangnya akun FB-nya atau di dalam narasinya tersebut wanita yang disebut bernama Wahyudiarti Setiya Ningrum tidak menyertakan data di mana kampung atau wilayah tempat dia bermukim.