Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus memuji Pemerintah Arab Saudi dalam mengambil tindakan pencegahan penyebaran Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 selama haji tahun 2020 dengan 1.000 jamaah.

"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Kerajaan Arab Saudi terkait langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat haji seaman mungkin tahun ini," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dilansir di The National, Jumat (31/07/2020).

Langkah-langkah yang dilakukan Saudi disebut menjadi contoh kuat akan tindakan yang harus dilakukan suatu negara untuk beradaptasi kondisi normal baru atau new normal. Dibanding mendatangkan 2,5 juta peziarah seperti biasa, Arab Saudi memilih membatasi jumlah jamaah untuk kali ini.

Alih-alih beribadah dengan posisi saling berdekatan bahu dalam kerumunan besar, para peziarah menjaga jarak satu sama lain. Mereka dimasukkan dalam kelompok yang berisi 20 orang.

Sebelum berangkat haji, mereka harus mendaftar melalui situs web yang disediakan otoritas Saudi. Beberapa syarat yang harus diikuti adalah berusia antara 20 hingga 50 tahun serta tidak memiliki penyakit kronis atau gejala COVID-19.

Pedoman kesehatan yang ketat harus dipatuhi tahun ini. Jamaah harus menjalani karantina sebelum dan sesudah pelaksanaan haji. Masker wajib digunakan setiap saat. Mereka yang ikut serta dalam pelaksanaan haji harus menjalani pemeriksaan suhu dan tes virus sebelum tiba di Makkah.

Ibadah haji biasanya menarik jamaah dari segala usia, tetapi untuk tahun ini kesempatan hanya dibuka untuk generasi muda. Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa orang yang berusia lebih muda juga berisiko tertular COVID-19.

"Salah satu tantangan yang kami hadapi adalah meyakinkan generasi muda tentang risiko ini. Bukti menunjukkan lonjakan kasus di beberapa negara sebagian besar didorong oleh orang-orang muda yang melonggarkan penjagaan mereka selama musim panas," jelasnya.

WHO disebut telah memperingatkan sebelumnya dan akan terus menginformasikan hal tersebut. Golongan muda tak rentan dari COVID-19, dapat menyebabkan kematian, serta menularkan virus kepada orang lain.

"Itu sebabnya, anak muda harus mengambil tindakan pencegahan yang sama untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, seperti keluarga. Mereka harus menjadi pemimpin dan pendorong perubahan," lanjut Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Arab Saudi telah mencatat lebih dari 274.000 kasus COVID-19 dan 2.800 kematian. Kerajaan sebelumnya memberlakukan penguncian ketat serta jam malam.