Pemilik perusahaan tambang Harita Group, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dipastikan mangkir dari agenda pemeriksaan di KPK pada Kamis (16/7/2020). Padahal seharusnya, Lim akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pemberian Izin Kuasa Pertambangan nikel di wilayah Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. 

Penyidik KPK sedianya ingin menggali keterangan dari Lim guna melengkapi berkas penyidikan Aswad Sulaiman (ASW) yang tak lain adalah mantan Bupati Konawe Utara.

"Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, saksi ASW, tindak pidana korupsi terkait pemberian Izin Kuasa Pertambangan Eksplorasi dan Eksploitasi serta Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi dari Pemerintah Kabupaten Konawe Utara tahun 2007-2014; belum diperoleh informasi," ujar Plt Jubir KPK, Ali Fikri , Kamis (16/7/2020).

Diketahui, kasus ini bergulir setelah KPK menetapkan mantan Bupati Konawe Utara Aswad Sulaiman sebagai tersangka karena diduga menerima suap sekitar Rp13 miliar terkait penerbitan izin pertambangan eksplorasi dan eksploitasi serta izin usaha pertambangan operasi produksi.

Diduga, uang Rp13 miliar tersebut diterima dari sejumlah perusahaan yang mengajukan izin kuasa pertambangan kepada Pemerintah Kabupaten Konawe Utara pada periode 2007-2009.

Akibat ulahnya, jumlah kerugian keuangan negara ditaksir sekitar Rp2,7 triliun. Angka tersebut didasarkan pada penghitungan penjualan hasil produksi nikel yang diduga diperoleh akibat proses perizinan melawan hukum.

Aswad Sulaiman disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a, atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Aswad juga disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sekadar informasi, Harita Group adalah konglomerasi bisnis Indonesia yang dimiliki dan dikendalikan oleh keluarga Lim. Perusahaan ini bergerak di sektor sumber daya alam dengan wilayah operasi di seluruh Indonesia. Harita Group mengoperasikan bisnis pertambangan nikel, bauksit dan perkebunan kelapa sawit (lewat Bumitama Agri di Singapura), perkapalan, perkayuan dan batu bara. 

Majalah Forbes pada tahun 2015 menempatkan Lim pada urutan ke-41 orang terkaya di Indonesia.