Pada pukul 09.43 WIB, rupiah berotot 28 poin atau 0,19% menjadi Rp14.560 per US$ dari sebelumnya Rp14.588 per US%. Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, dari dalam negeri pasar menantikan hasil RDG BI yang masih membuka peluang pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

"Dengan kondisi inflasi yang masih terjaga di bawah dua persen, pemangkasan ini bisa terjadi. Pasar mungkin sudah mengantisipasi hasil ini kemarin. Situasi sell on fact buy on rumour mungkin bisa mendorong penguatan rupiah pasca pengumuman BI," ujar Ariston.

Sementara itu, kondisi eksternal pagi ini terlihat adanya tekanan ke aset-aset berisiko karena kekhawatiran peningkatan penularan virus dan memburuknya hubungan AS dan China.

Padahal, lanjut Ariston, pasar AS dan Eropa semalam ditutup positif karena berita kemajuan penelitian vaksin COVID-19. Pasar juga menantikan data PDB kuartal II 2020 dan data produksi industri Juni China, yang diperkirakan akan lebih bagus dari data sebelumnya. "Bila demikian hasilnya bisa memberikan sentimen positif ke aset-aset berisiko hari ini termasuk rupiah," kata Ariston.

Ariston memperkirakan, rupiah berpotensi menguat tipis ke arah Rp14.450 per US$, dengan potensi resisten di kisaran Rp14.700 per US$. Pada Rabu (14/7/2020), rupiah ditutup melemah 138 poin atau 0,95% menjadi Rp14.588 per US$ dari sebelumnya Rp14.450 per US$.