Menteri Pertahanan Prabowo Subianto semakin menunjukkan taringnya sebagai Menteri Pertahanan. Prabowo yang mantan Danjen Kopassus ini betul-betul memperhatikan kesiapan dan kelengkapan alat perlengkapan perang, seperti kendaraan tempur maupun amunisi.

Tak tanggung-tanggung, Prabowo baru saja memesan 4 miliar butir peluru ke PT Pindad (Persero). Pesanan Kementerian Pertahanan itu sekaligus mengukir rekor pesanan tertinggi di tubuh Pindad sebagai produsen senjata. Bahkan, sejak Pindad berdiri. 

Menurut Direktur Utama Pindad Abraham Mose, nilai kontrak yang telah ditandatangani perusahaan dengan Kemenhan nilainya mencapai Rp 19 triliun dan kontrak ini harus dipenuhi hingga 2023 mendatang. "Kemarin Pindad dapat order amunisi empat miliar butir, baru pertama sejak pindad berdiri," kata Abraham.

Mendapat pesanan sebanyak itu, Pindad mau tak mau wajib meningkatkan kapasitas produksinya. Pasalnya, perusahaan pelat merah di sektor pertahanan ini baru mampu memproduksi 300 juta butir peluru per tahun. Padahal, untuk tahun ini saja, Pindad berarti harus mulai mencicil pesanan Prabowo dengan memproduksi sebanyak 500 juta butir peluru.

"Kita harus modernisasi pabrik amunisi jika pesanan sampai 4 miliar butir dalam 2023. Kapasitas produksi saat ini baru mencapai 300 juta butir per tahun, kalau 4 miliar harus modernisasi mesin. Kebutuhannya dengan investor dan bank Rp 2,5 triliun," kata dia

Aksi borong peluru oleh Prabowo ini juga sejalan dengan perintah Presiden Jokowi yang meminta agar industri pertahanan dalam negeri diutamakan dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).