Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) mengingatkan, tidak akan ada yang kembali normal dalam waktu dekat karena terlalu banyak negara yang mengacaukan respons mereka terhadap pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Setelah catatan harian 230.000 kasus baru Covid-19 dilaporkan ke WHO pada hari Minggu lalu, badan kesehatan PBB itu mengatakan, pandemi hanya akan bertambah buruk, kecuali orang-orang mematuhi jarak fisik, mencuci tangan, dan memakai masker.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa negara-negara yang mengurangi pembatasan dan penutupan sekarang menyaksikan kebangkitan virus karena mereka tidak mengikuti metode yang sudah terbukti untuk mengurangi risiko.

"Saya ingin terus terang dengan Anda, tidak akan ada kembali ke 'normal lama' untuk masa mendatang," tegas Tedros pada konferensi pers virtual dari Jenewa, seperti dilansir Reuters, Selasa (14/07/2020).

"Biarkan saya terbuka, terlalu banyak negara menuju ke arah yang salah. Virus tetap menjadi musuh publik nomor satu, tetapi tindakan banyak pemerintah dan orang tidak mencerminkan hal ini," ujar Tedros.

Dia mengatakan, pesan berbeda dari para pemimpin negara telah merusak kepercayaan dalam penanganan pandemi.

"Jika pemerintah tidak meluncurkan strategi komprehensif untuk menekan penularan virus, dan jika populasi tidak mengikuti prinsip-prinsip kesehatan masyarakat dasar, hanya ada satu cara pandemi ini akan pergi. Ini akan menjadi lebih buruk dan lebih buruk dan lebih buruk lagi," tegasnya.

Hingga pertengahan Juli, COVID-19 telah membunuh hampir 570.000 orang dan menginfeksi lebih dari 12,9 juta sejak wabah tersebut muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China Desember 2019 lalu.

"Meskipun jumlah kematian harian relatif stabil, ada banyak yang harus dikhawatirkan," kata Tedros.

Dia mengatakan ada empat skenario yang terjadi di seluruh dunia.

Menurut Tedros, mereka adalah negara-negara yang waspada dan terhindar dari wabah besar, mereka yang mendapat wabah besar di bawah kendali, mereka yang meredakan pembatasan dan sekarang mundur, dan mereka yang berada dalam fase transmisi yang intens. Sementara, kata Tedros, episentrum COVID-19 hingga kini tetap di Amerika Serikat.