Jelaslah, kabar bohong langsung dibantah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). Direktur Perencanaan dan Pengelolaan Dana BPDP-KS, Kabul Wijayanto mengatakan, program peremajaan sawit atau replanting yang dijalankan BPDP-KS justru meningkatkan produksi, bukan menambah luas lahan sawit yang memantik deforestasi.

Hal itu dipaparkan Kabul saat menjadi nara sumber dalam Digital Talk (DigiTalk) Sawit Sumatera Regional II (Riau, Kepulauan Riau, Sumbar, dan Aceh) yang diselenggarakan BPDP-KS, Senin (13/7/2020). Berdasarkan data termutakhir dari Kementerian Pertanian, luasan kebun sawit mencapai 16,3 juta hektar. Sedangkan potensi kebun untuk peremajaan mencapai 2,4 juta hektar.

"Kalau disebutkan bahwa kebun sawit memicu deforestasi atau bahkan menghilangkan habitat dari hewan langka, jelas tidak benar. Dengan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), justru BPDP-KS ingin menaikkan produktivitas kebun, bukan memperluas kebun," terangnya.

"Tidak ada areal hutan yang tergerus dari pengembangans sawit. Karena tujuan dibentuknya BPDP adalah meningkatkan produktivitas kebun. Bukan lahannya yang ditingkatkan tetapi produksinya," imbuh Kabul.

Dengan kata lain, menurut Kabul, BPDP-KS ingin mengoptimalkan lahan sawit yang sudah ada. Untuk itu, BPDP-KS berupaya mengimplementasi sejumlah program sawit yang bertujuan mulia. Untuk memajukan sektor sawit yang berujung kepada peningkatan kesejahteraan petani. "Kita dorong petani memiliki sertifikasi sawit berkelanjutan," paparnya.

Sejak awal, kata dia, pemerintah menetapkan sawit sebagai komoditas strategis. Lantaran memberikan berkah secara ekonomi, sosial dan ekologi. Berdasarkan data BPDP-KS, industri sawit menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta pekerja tidak langsung. Totalnya menjadi 16,2 juta pekerja.

Dari sektor pertanian sawit, terdapat 2,4 juta petani swadaya dan menyerap 4,6 juts pekerja. Kontribusi ekspor sawit terus naik sejak 2017, rata-ratanya US$22 juta. Kontrinusi ekspor non migas dari sawit berada di kisaran 13,5%-14%.

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan (SDG's), lanjutnya, industri sawit dari hulu hingga hilir, sangat mendukung. Karena terbukti menyerap pekerja dalam jumlah signifikan, mengurangi kesenjangan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan, serta berdampak positif terhadap lingkungan kerena mengurangi polusi.

Sementara Ketua bidang Komunikasi Gabupngan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi membeberkan cerita sebuah LSM yang rajin menyerang industri sawit Indonesia. Tak jarang memobilisir wartawan untuk memuluskan hasrat buruknya itu.

"Suatu saat, ada LSM mengajak wartawan mendatangi kantor idnustri sawit di Jakarta, secara dadakan. Setelah sampai, anggota LSM itu membentangkan karpet bermotifkan kulit Harimau Sumatera. Mereka ingin menyampaikan bahwa industri sawit di Indonesia merupakan ancaman bagi habitat hewan yang langka. Ini kan enggak betul. Hoax," tegasnya mantan wartawan senior Jawa Pos ini.

Meski serangan terhadap sawit Indonesia begitu masif, Tofan meyakini tidak akan efektif. lantaran permintaan dunia untuk minyak sawit, tidak pernah sepi. "Hanya karena Covid-19, permintaan sedikit turun. Karena aktivitas ekonomi di dunia memang turun semua. Tapi kita tetap yakin, minyak sawit tidak akan pernah kehilangan peminat, meski diserang dari berbagai penjuru," paparnya.