Presiden Joko Widodo dan Menhan Prabowo Subianto kembali memamerkan 'kemesraan' di depan publik saat meninjau ketahanan pangan di Kalimantan Tengah. Jokowi memberikan tugas baru kepada Prabowo sebagai jenderal untuk mengurusi masalah cadangan atau ketahanan pangan nasional.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, dalam kacamata politiknya, Jokowi terlihat ingin menguji loyalitas Prabowo. Termasuk, ingin mengetahui kemampuan Prabowo dalam mengurus persoalan pangan.

"Kan terlihat akan tumpang tindih dengan tugas Mentan (Menteri Pertanian)," kata, Jumat (10/7/2020).

Di sisi lain, Dosen Universitas Al Azhar ini melihat bisa jadi Jokowi semakin nyaman dengan Prabowo. Tidak heran jika memunculkan analisa keduanya diikat dengan kepentingan politik, yaitu kepentingan politik koalisi dan rekonsiliasi.

"Termasuk juga kepentingan politik, soal Prabowo yang akan nyapres lagi di 2024. Sedangkan Jokowi nantinya sebagai mantan presiden akan butuh back-up politik dari Prabowo," tuturnya.

Karenanya, Ujang menilai, kedekatan keduanya bukan kedekatan permanen karena basisnya hanya kepentingan. Selain karena hubungan atasan dan bawahan, presiden dan menterinya, keduanya juga akan saling mengamankan dari sisi politik.

Ujang seperti dikutip Sindonews menilai, Prabowo bisa mengamankan Jokowi hingga akhir jabatan. Dan sebaliknya, Prabowo jika nanti menjadi presiden bisa "amankan" Jokowi ketika sudah tak lagi menjadi presiden.

"Secara politik juga Jokowi ingin mengatakan pada publik. Hubungan Jokowi dan Prabowo baik dan terjaga. Di pilpres boleh gontok-gontokan. Tapi pasca pilpres, mereka rangkul-rangkulan," tuturnya.

Ketahanan Pangan Konsep Gerindra

Partai Gerindra memberi penjelasan alasan dibalik penujukkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk menggarap lumbung pangan oleh Presiden Jokowi. Wakil Ketua Umum Gerindra yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menuturkan bahwa lumbung pangan bersinggungan erat dengan ketahanan negara. 

"Lumbung pangan saya rasa sebagai bagian dari mewujudkan ketahanan pangan. Pangan sebagai cadangan logistik strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan," ungkap Sufmi.

Gerindra menilai, ketersediaan pangan sebagai cadangan logistik merupakan salah satu bentuk pertahanan negara yang strategis. Hal tersebut diperlukan agar Indonesia bisa berdaulat secara pangan dan tidak tergantung dari negara lain. 

"Nah lumbung pangan ini perlu untuk ketahanan NKRI dalam bidang pangan. Itulah alasan Presiden Jokowi menunjuk Prabowo karena memang kaitannya dengan ketahanan negara terutama di bidang pangan," tutur Sufmi. 

Gerindra sendiri dikatakan oleh Sufmi sebelumnya sudah pernah mengajukan konsep terkait ketahanan pangan sebelum bergabung ke pemerintah. Konsep ini disampaikan di pertenngahan tahun 2019. Namun, Sufmi menolak apabila penunjukkan Prabowo disebut-sebut sebagai "deal" dengan pemerintah. 

"Kalau kemudian ada pertanyaan apakah itu termasuk deal, kemarin kita ga ada deal. Tapi kita menawarkan konsep memperkuat pertahanan pangan hingga energi. Nah saya pikir mungkin konsep yang kemudian di anggap bagus lalu dijadikan misi oleh presiden," paparnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menunjuk Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto untuk menggarap proyek lumbung pangan nasional.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Menteri Pertahanan RI, Dahnil Anzar saat berbicara dalam acara peluncuran buku "Ekonomi Pertahanan Menghadapi Perang Generasi Keenam Karya Laksdya TNI Agus Setiadji" yang berlangsung secara virtual.